Uji Kemandirian Cloud Eropa, AWS Putus Jaringan Global
- Rita Puspita Sari
- •
- 14 jam yang lalu
Ilustrasi Data Sovereignty
AWS berencana memutus sementara koneksi European Sovereign Cloud dari jaringan globalnya pada 24 Oktober 2026. Pengujian ini dilakukan untuk membuktikan bahwa layanan cloud khusus Eropa tersebut mampu beroperasi tanpa bergantung pada infrastruktur AWS yang berada di luar Uni Eropa (UE).
Pengujian akan berlangsung selama beberapa jam. Selama periode tersebut, European Sovereign Cloud tidak akan terhubung ke AWS Global Network, jaringan backbone privat yang biasanya digunakan untuk menghubungkan berbagai lokasi infrastruktur AWS.
AWS menyatakan bahwa layanan di dalam European Sovereign Cloud, AWS Region lainnya, serta konektivitas privat melalui AWS Direct Connect tidak akan terdampak. Meski demikian, pelanggan berpotensi mengalami gangguan konektivitas singkat ketika lalu lintas jaringan dialihkan ke jalur alternatif pada awal dan akhir pengujian.
Gangguan tersebut dapat terjadi ketika jaringan eksternal memperbarui informasi perutean atau routing untuk menyesuaikan perubahan jalur koneksi.
AWS Uji Operasional Tanpa Jaringan Global
AWS Global Network merupakan jaringan backbone privat yang digunakan AWS untuk mengirimkan data operasional yang telah diotorisasi antarlokasi tanpa melewati internet publik. Dalam operasional normal, European Sovereign Cloud memanfaatkan jaringan tersebut untuk mendukung konektivitasnya.
Namun, dalam pengujian ini, AWS akan menonaktifkan koneksi ke jaringan backbone global untuk mengetahui apakah lingkungan cloud tersebut tetap dapat beroperasi secara mandiri.
Pengujian tidak akan memutus koneksi European Sovereign Cloud dari internet. AWS akan menggunakan koneksi internet khusus yang disediakan oleh penyedia layanan internet atau ISP di Eropa. Dengan mekanisme tersebut, beban kerja pelanggan diharapkan tetap dapat diakses meskipun jaringan privat global AWS tidak tersedia.
Selama pengujian berlangsung, lalu lintas yang biasanya melewati jaringan backbone privat akan dialihkan melalui internet publik. AWS memperkirakan proses perpindahan tersebut dapat menimbulkan periode singkat penyesuaian perutean, baik ketika koneksi beralih ke ISP Eropa maupun saat kembali menggunakan AWS Global Network setelah pengujian selesai.
Selain jaringan backbone, AWS juga memiliki sistem global terpisah untuk mentransfer sejumlah terbatas data operasional yang berkaitan dengan European Sovereign Cloud. Menurut AWS, transfer tersebut dikendalikan oleh tim yang berbasis di Uni Eropa dan tidak mencakup konten pelanggan maupun metadata yang dibuat pelanggan.
Sistem itu digunakan, antara lain, untuk menyinkronkan salinan kode sumber yang telah diperiksa, mendistribusikan pembaruan perangkat lunak, serta memindahkan informasi operasional tertentu yang telah disetujui ke luar wilayah UE.
AWS berencana menonaktifkan sistem tersebut sepenuhnya selama pengujian pada Oktober. Dengan demikian, dua jalur yang menghubungkan European Sovereign Cloud dengan infrastruktur global AWS akan dinonaktifkan, yakni jaringan backbone Global Network dan sistem transfer data operasional.
AWS menegaskan bahwa kedua komponen tersebut bukan ketergantungan kritis bagi operasional European Sovereign Cloud. Pengujian ini ditujukan untuk memberikan bukti teknis atas klaim tersebut melalui simulasi kondisi operasional langsung.
Kegiatan ini akan dilakukan oleh tim operasional European Sovereign Cloud yang seluruh anggotanya merupakan penduduk Uni Eropa dan bekerja di wilayah tersebut. Selama pengujian, tim akan mengandalkan perangkat keras dan perangkat lunak yang tersedia di dalam lingkungan sovereign cloud.
Setelah pengujian selesai, AWS berencana menyampaikan pembaruan hasil kepada pelanggan dan regulator.
Sovereign Cloud Tidak Cukup dengan Menyimpan Data di Eropa
Upaya AWS tersebut berkaitan dengan meningkatnya perhatian Eropa terhadap kedaulatan digital. Bagi Komisi Eropa, memastikan data disimpan dan diproses di wilayah Uni Eropa hanyalah salah satu bagian dari kedaulatan cloud.
Melalui Cloud Sovereignty Framework, Komisi Eropa menilai penyedia layanan cloud berdasarkan berbagai aspek, termasuk kedaulatan hukum dan yurisdiksi, data dan kecerdasan buatan (AI), operasional, rantai pasok, teknologi, keamanan, kepatuhan, serta pertimbangan strategis.
Kerangka tersebut membedakan kedaulatan data dari kedaulatan operasional. Kedaulatan data berkaitan dengan lokasi penyimpanan dan pemrosesan informasi. Sementara itu, kedaulatan operasional mencakup kemampuan personel yang berbasis di Uni Eropa untuk mengelola, memelihara, dan memberikan dukungan terhadap layanan tanpa harus bergantung pada keterlibatan penyedia dari luar UE.
AWS menyatakan bahwa konten pelanggan dan metadata yang dibuat pelanggan di European Sovereign Cloud tetap berada di wilayah Uni Eropa. Pengujian pada Oktober secara khusus akan memeriksa apakah layanan tersebut dapat terus beroperasi ketika koneksi normal ke sistem global AWS dinonaktifkan.
Komisi Eropa juga menerapkan pendekatan bertingkat untuk menilai kedaulatan cloud melalui Sovereignty Effectiveness Assurance Levels (SEAL). Dalam kerangka tersebut, SEAL-2 berkaitan dengan kedaulatan data, SEAL-3 mencakup otonomi teknologi dan ketahanan digital, sedangkan SEAL-4 merepresentasikan kedaulatan penuh.
Kerangka ini menggunakan 48 kriteria untuk mengevaluasi berbagai aspek, termasuk yurisdiksi hukum, operasional, rantai pasok, dan teknologi yang mendasari layanan. Dengan pendekatan tersebut, lokasi data dapat dinilai secara terpisah dari ketergantungan operasional maupun teknologi.
AWS mulai menyediakan European Sovereign Cloud secara umum pada Januari 2026. Region pertamanya berada di Brandenburg, Jerman. AWS menyatakan bahwa infrastruktur tersebut dipisahkan secara fisik dan logis dari Region AWS komersial yang sudah ada.
Pemisahan itu juga mencakup control plane, yakni komponen yang digunakan untuk mengelola dan mengendalikan sumber daya cloud. European Sovereign Cloud beroperasi sebagai partisi AWS tersendiri bernama aws-eusc, dengan sistem manajemen identitas dan akses, penagihan, konsol, titik akhir layanan, serta sistem organisasi yang terpisah.
Kredensial yang digunakan pada partisi AWS komersial standar tidak dapat dipakai untuk mengakses sumber daya di aws-eusc. Sejumlah fitur yang memungkinkan koneksi langsung lintas partisi, seperti VPC peering, Transit Gateway peering, dan replikasi S3, juga tidak tersedia melintasi batas tersebut.
Karena itu, pelanggan perlu menggunakan organisasi dan sistem penagihan AWS yang terpisah untuk European Sovereign Cloud. Aplikasi yang harus berkomunikasi dengan lingkungan AWS di partisi lain perlu menggunakan koneksi jaringan atau API dengan kredensial tersendiri.
Infrastruktur AWS Direct Connect juga dipisahkan. Koneksi maupun gateway Direct Connect yang digunakan pada partisi komersial tidak dapat langsung diperluas ke European Sovereign Cloud. Pelanggan harus menyiapkan konektivitas tersendiri untuk lingkungan aws-eusc.
AWS menambahkan bahwa operasional sehari-hari, termasuk akses ke pusat data, dukungan teknis, dan layanan pelanggan, ditangani oleh personel yang berbasis di Uni Eropa. Perusahaan juga telah menempatkan salinan kode sumber secara lokal di wilayah tersebut.
AWS mengklaim European Sovereign Cloud tidak memiliki ketergantungan operasional kritis pada infrastruktur di luar Uni Eropa. Pengujian pada Oktober akan menjadi salah satu upaya untuk menguji klaim itu dalam kondisi operasional nyata.
Kemandirian Operasional Berbeda dari Kedaulatan Hukum
Meski demikian, kemampuan beroperasi tanpa jaringan global tidak serta-merta membuktikan seluruh aspek kedaulatan cloud. AWS masih berkantor pusat di Amerika Serikat, sedangkan Komisi Eropa menilai kedaulatan hukum dan yurisdiksi secara terpisah dari lokasi penyimpanan data dan pengelolaan layanan sehari-hari.
Perbedaan tersebut juga tercermin dalam rancangan Cloud and AI Development Act yang diusulkan Komisi Eropa. Tingkat jaminan awal dalam rancangan itu mencakup penyimpanan dan pemrosesan data pada infrastruktur yang berada di Uni Eropa. Tingkat yang lebih tinggi menambahkan persyaratan terkait kemandirian dari negara ketiga, kepemilikan dan kendali oleh pihak UE, personel, serta rantai pasok perangkat lunak.
Artinya, lokasi infrastruktur tempat beban kerja dijalankan tidak selalu sama dengan pihak yang memiliki atau mengendalikan penyedia layanan beserta teknologi pendukungnya.
Pengujian AWS pada Oktober berfokus pada kemandirian operasional. Pengujian tersebut tidak secara langsung membuktikan kemandirian dalam hal kepemilikan perusahaan ataupun pemenuhan seluruh persyaratan hukum dan rantai pasok yang ditetapkan dalam kerangka Uni Eropa.
Komisi Eropa sebelumnya memperkenalkan Cloud Sovereignty Framework sebagai bagian dari program pengadaan layanan cloud senilai 180 juta euro untuk lembaga, badan, kantor, dan agensi Uni Eropa. Penyedia yang mengikuti program tersebut dinilai menggunakan ambang batas SEAL dan kerangka kedaulatan dengan 48 kriteria.
Sementara itu, rancangan Cloud and AI Development Act bertujuan membentuk kerangka penilaian kedaulatan cloud dan AI yang berlaku di seluruh Uni Eropa. Rancangan tersebut juga mencakup persyaratan pengadaan bersama bagi administrasi publik serta langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan pada infrastruktur digital kritis.
AWS menyatakan bahwa pengujian ini dirancang agar sejalan dengan tujuan Cloud Sovereignty Framework milik Komisi Eropa dan kerangka C3A dari Kantor Federal Jerman untuk Keamanan Informasi atau BSI.
Perusahaan berharap hasil pengujian dapat memberikan bukti teknis dan operasional tambahan bagi pelanggan serta regulator dalam menilai mekanisme kedaulatan yang diterapkan pada European Sovereign Cloud.
Melalui pengujian ini, AWS ingin menunjukkan bahwa pemisahan infrastruktur, pengelolaan oleh personel di Uni Eropa, dan pembatasan koneksi ke sistem global dapat mendukung operasional cloud yang lebih mandiri. Namun, penilaian kedaulatan secara menyeluruh tetap mencakup aspek lain, terutama yurisdiksi hukum, kendali penyedia, teknologi, dan rantai pasok.
