Cloud, AI, dan Data Lokal: Arah Baru Infrastruktur di 2026


Infrastruktur Cloud

Infrastruktur Cloud

Tahun 2026 diprediksi menjadi momen penentu bagi arah strategi cloud di Inggris. Perubahan situasi geopolitik global, percepatan teknologi digital, serta regulasi yang semakin ketat mendorong banyak organisasi untuk meninjau ulang cara mereka menyimpan dan mengelola data. Salah satu tren yang paling menonjol adalah repatriasi data, yaitu langkah memindahkan kembali beban kerja dan data dari penyedia cloud global ke infrastruktur dalam negeri.

Isu kedaulatan data menjadi pemicu utama perubahan ini. Perusahaan tidak lagi hanya mempertimbangkan kemudahan dan skalabilitas cloud publik, tetapi juga lokasi data, kepatuhan hukum, dan kontrol penuh terhadap sistem informasi mereka. Kekhawatiran mengenai akses lintas negara, regulasi internasional, serta risiko keamanan membuat banyak bisnis memilih pendekatan yang lebih berhati-hati.

Berdasarkan wawasan dari Pulsant, penyedia infrastruktur digital edge asal Inggris, sepanjang 2025 banyak perusahaan mulai mengevaluasi ulang strategi cloud mereka. Tekanan regulasi yang meningkat serta biaya cloud publik yang kian tinggi mendorong organisasi memindahkan sebagian beban kerja ke private cloud, colocation, atau infrastruktur on-premise. Tujuannya jelas: meningkatkan efisiensi biaya, memastikan kepatuhan terhadap aturan, dan mendapatkan kendali yang lebih besar atas data serta operasional TI.

 

Cloud Tetap Relevan, Hybrid Jadi Pilihan Strategis

Meski terjadi pergeseran strategi, cloud tetap menjadi fondasi penting dalam infrastruktur TI modern. Namun, alih-alih mengandalkan satu model saja, banyak perusahaan kini memilih model hybrid sebagai solusi jangka panjang. Pendekatan ini mengombinasikan cloud publik, cloud privat, dan infrastruktur lokal agar lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan bisnis.

Di Inggris, semakin banyak perusahaan memindahkan beban kerja dari hyperscaler global ke penyedia lokal. Hasilnya adalah ekosistem TI hybrid yang memungkinkan data sensitif tetap berada di dalam negeri, sementara beban kerja lain tetap memanfaatkan keunggulan cloud publik. Riset menunjukkan bahwa 87% bisnis di Inggris berencana memulangkan sebagian atau seluruh beban kerja mereka dalam dua tahun ke depan.

Pada 2026, para analis memperkirakan perusahaan akan semakin menekankan empat hal utama: lokasi data, kedaulatan, transparansi, dan visibilitas. Namun, transisi menuju lingkungan hybrid bukan tanpa tantangan. Perusahaan harus mampu mengelola kompleksitas sistem yang lebih beragam dibandingkan infrastruktur tradisional yang statis.

 

Keamanan Siber Jadi Sorotan Utama

Sepanjang 2025, sejumlah insiden keamanan siber besar terjadi di Inggris, termasuk kasus peretasan sistem ritel ternama seperti M&S. Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa keamanan data tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal pemahaman menyeluruh tentang di mana data disimpan dan bagaimana data tersebut dikelola, termasuk dalam rantai pasok.

Sayangnya, masih banyak organisasi yang belum memiliki visibilitas penuh atas data mereka. Ketidakjelasan lokasi penyimpanan, proses pemrosesan, hingga mekanisme pencadangan membuat risiko semakin besar. Kondisi ini mendorong perubahan fokus dari sekadar pencegahan serangan menjadi ketahanan sistem (resilience), yaitu kemampuan untuk pulih dengan cepat ketika insiden terjadi.

Akibatnya, layanan disaster recovery dan backup diperkirakan akan menjadi standar wajib dalam layanan pusat data. Penyedia pusat data di Inggris pun mulai beradaptasi dengan menghadirkan platform yang lebih transparan, patuh regulasi, serta menawarkan tingkat keamanan yang lebih tinggi bagi pelanggan.

 

Regulasi: Antara Peluang dan Tantangan

Perubahan strategi cloud dan pusat data tidak terlepas dari kebijakan pemerintah. Sepanjang 2025, berbagai regulasi baru diperkenalkan, salah satunya Cyber Security & Resilience Bill, yang bertujuan memperkuat pertahanan siber nasional dan melindungi layanan publik penting. Regulasi ini akan memengaruhi cara perusahaan beroperasi dan menetapkan standar keamanan di industri.

Di satu sisi, aturan ini memberikan kejelasan dan meningkatkan keamanan. Namun di sisi lain, perusahaan harus menghadapi beban tambahan berupa kewajiban pelaporan dan administrasi yang lebih kompleks.

Pemerintah juga mempercepat proses perizinan pembangunan infrastruktur pusat data, khususnya untuk proyek yang masuk kategori Nationally Significant Infrastructure Projects (NSIP). Meski mempercepat pembangunan, kewajiban tambahan seperti section 106 tetap dapat meningkatkan biaya proyek karena pengembang harus berkontribusi pada komunitas lokal.

Kombinasi kebijakan yang mendukung sekaligus menantang ini menciptakan dinamika baru. Tahun 2026 akan menjadi periode pembuktian, di mana perusahaan yang siap secara keamanan dan kepatuhan berpotensi mendapat keuntungan, sementara yang belum siap bisa mengalami penundaan proyek.

 

AI, Edge Computing, dan Arah Baru Infrastruktur

Ledakan minat terhadap kecerdasan buatan (AI) pada 2025 turut memengaruhi kebutuhan pusat data, terutama di lingkungan hyperscale. Namun, pada 2026, euforia AI diperkirakan mulai lebih realistis. Perusahaan akan lebih fokus pada penerapan AI yang benar-benar memberikan nilai bisnis.

Konsep seperti sovereign AI dan inference AI akan semakin relevan, menuntut infrastruktur yang dekat dengan sumber data. Dalam konteks inilah edge computing diprediksi memainkan peran kunci.

Menurut Rob Coupland, CEO Pulsant, lebih banyak pusat data edge akan dibangun di dekat kota-kota besar Inggris. Infrastruktur edge regional dinilai lebih berkelanjutan, hemat biaya, serta mampu mendorong pertumbuhan sektor seperti manufaktur pintar dan transportasi.

Meski London dan Inggris Tenggara masih mendominasi pasar, minat terhadap lokasi regional meningkat berkat inisiatif seperti AI Growth Zones. Ke depan, penyedia pusat data yang mengedepankan diversifikasi regional dan transparansi diperkirakan akan memiliki keunggulan kompetitif.

Secara keseluruhan, tahun 2026 bukan sekadar kelanjutan tren, melainkan titik balik penting bagi strategi cloud dan infrastruktur digital Inggris. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan perubahan ini akan berada di posisi terbaik untuk menghadapi era digital yang semakin kompleks.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait