Google Luncurkan Satelit untuk Bangun Pusat Data AI di Orbit
- Rita Puspita Sari
- •
- 16 jam yang lalu
Ilustrasi Peluncuran Satelit
Selama ini, pusat data atau data center yang menjadi tulang punggung Arificial Intelligence (AI) dibangun di Bumi dengan infrastruktur besar yang dipenuhi ribuan server. Namun, Google kini menjajaki kemungkinan memindahkan sebagian infrastruktur komputasi AI tersebut ke luar angkasa melalui proyek ambisius bernama Project Suncatcher.
Raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu mulai menguji teknologi yang dibutuhkan untuk mewujudkan pusat data AI di orbit Bumi. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi AI dan berbagai tantangan dalam membangun pusat data konvensional di daratan.
Pada 1 Oktober 2026 waktu Amerika Serikat, Google meluncurkan satelit percobaan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX dalam misi Transporter-18 dari Pangkalan Angkatan Antariksa Vandenberg, California. Peluncuran tersebut menjadi langkah awal untuk menguji kemampuan perangkat keras komputasi AI beroperasi di lingkungan luar angkasa.
Melalui Project Suncatcher, Google ingin mengetahui apakah teknologi yang selama ini digunakan untuk menjalankan AI di Bumi dapat beroperasi secara andal di orbit. Jika berhasil, pendekatan ini berpotensi membuka jalan bagi pengembangan infrastruktur komputasi AI berbasis satelit.
Mengapa Google Ingin Membangun Pusat Data di Luar Angkasa?
Perkembangan AI generatif dan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan mendorong kebutuhan terhadap daya komputasi yang semakin besar. Pelatihan model AI, pemrosesan data dalam skala besar, hingga pengoperasian layanan AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang kuat dan terus berkembang.
Kondisi tersebut membuat perusahaan teknologi berlomba-lomba memperluas kapasitas pusat data. Namun, pembangunan fasilitas di Bumi menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kebutuhan listrik yang tinggi, ketersediaan lahan, sistem pendingin, hingga pasokan air untuk mendukung operasional.
Selain persoalan infrastruktur, pembangunan pusat data juga dapat memicu penolakan masyarakat. Di sejumlah wilayah pedesaan Amerika Serikat, misalnya, rencana pembangunan fasilitas untuk mendukung AI mendapat perhatian karena kebutuhan energi dan sumber daya yang besar serta dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
Situasi tersebut mendorong perusahaan teknologi mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan komputasi pada masa mendatang. Salah satu gagasan yang mulai dijajaki adalah menempatkan perangkat komputasi di orbit Bumi.
Google melihat luar angkasa sebagai salah satu kemungkinan untuk mengembangkan infrastruktur AI generasi berikutnya. Meski demikian, pusat data orbital masih berada dalam tahap pengujian dan memerlukan pembuktian teknis sebelum dapat digunakan secara luas.
Menguji Ketahanan Chip AI di Orbit Bumi
Tahap awal Project Suncatcher berfokus pada pengujian perangkat keras, terutama Tensor Processing Unit (TPU), yaitu chip khusus buatan Google yang dirancang untuk mempercepat komputasi AI.
Sebelum membangun sistem komputasi berskala besar di luar angkasa, Google perlu memastikan bahwa chip tersebut mampu bertahan dalam kondisi ekstrem. Perangkat harus menghadapi guncangan dan getaran ketika roket diluncurkan, perubahan kondisi lingkungan, serta paparan radiasi selama berada di orbit.
Radiasi menjadi salah satu tantangan penting karena dapat mengganggu operasi perangkat elektronik. Partikel berenergi tinggi berpotensi mengubah nilai bit dalam memori atau proses komputasi, yang dikenal sebagai bit flip. Kesalahan tersebut dapat menyebabkan data berubah dan mengganggu hasil pemrosesan.
Untuk mempelajari risiko tersebut, Google sebelumnya melakukan simulasi paparan radiasi di Crocker Nuclear Laboratory, University of California, Davis. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa chip TPU memiliki ketahanan yang menjanjikan terhadap kondisi yang disimulasikan.
Namun, simulasi di laboratorium belum sepenuhnya menggambarkan kondisi nyata di luar angkasa. Karena itu, Google melanjutkan pengujian melalui satelit percobaan untuk mengetahui bagaimana perangkat bekerja ketika menghadapi lingkungan orbital secara langsung.
Direktur Senior Paradigms of Intelligence Google, Travis Beals, menjelaskan bahwa peluncuran pertama ini ditujukan untuk mempelajari apa yang berhasil, menemukan titik kegagalan, dan menggunakan hasilnya sebagai dasar untuk misi selanjutnya.
Dengan pendekatan tersebut, Project Suncatcher tidak hanya menguji apakah chip AI dapat menyala dan beroperasi di orbit, tetapi juga mengidentifikasi persoalan yang perlu diselesaikan sebelum teknologi ini dikembangkan lebih jauh.
Panas Menjadi Tantangan Besar
Meski menawarkan kemungkinan baru, membangun pusat data AI di luar angkasa bukan perkara mudah. Salah satu hambatan utamanya adalah pengelolaan panas.
Chip AI menghasilkan panas ketika menjalankan komputasi. Di pusat data konvensional, panas tersebut umumnya dikelola menggunakan sistem pendingin berbasis udara atau cairan. Sistem ini membantu menjaga suhu perangkat agar tetap berada dalam batas operasional yang aman.
Di luar angkasa, proses tersebut menjadi jauh lebih rumit. Ruang hampa hampir tidak memiliki udara yang dapat membawa panas melalui konveksi. Akibatnya, perangkat tidak bisa mengandalkan metode pendinginan yang lazim digunakan di pusat data Bumi.
Panas harus dikelola melalui mekanisme lain, termasuk penggunaan radiator yang melepaskan energi panas dalam bentuk radiasi. Sistem tersebut perlu dirancang secara khusus agar mampu mempertahankan suhu perangkat ketika chip bekerja dalam waktu lama.
Tantangan ini sudah terlihat dalam pengujian satelit pertama Google. Menurut juru bicara perusahaan, satelit percobaan tersebut harus dimatikan setiap 20 menit untuk mencegah perangkat di dalamnya mengalami panas berlebih.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan panas masih menjadi pekerjaan penting sebelum komputasi AI di orbit dapat beroperasi secara berkelanjutan. Sistem yang mampu menjalankan chip selama beberapa menit belum tentu dapat memenuhi kebutuhan pusat data yang harus bekerja terus-menerus.
Kebutuhan Energi Juga Tidak Kecil
Selain persoalan panas, kebutuhan energi menjadi tantangan lain yang harus diperhitungkan. Chip TPU pada satelit percobaan Google hanya memperoleh pasokan daya sekitar 1 kilowatt.
Sebagai perbandingan, satelit komunikasi yang beroperasi saat ini umumnya menggunakan daya sekitar 10 hingga 20 kilowatt. Sementara itu, satelit yang dirancang untuk menjalankan beban komputasi AI diperkirakan membutuhkan daya hingga 100 kilowatt.
Perbedaan tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan energi untuk menjalankan komputasi AI di luar angkasa. Infrastruktur yang lebih kuat akan membutuhkan sistem pembangkit dan penyimpanan energi yang sesuai, serta pengelolaan panas yang mampu mengimbangi peningkatan konsumsi daya.
Panel surya berpotensi menjadi sumber energi utama bagi sistem tersebut. Namun, rancangan operasional tetap harus mempertimbangkan kondisi pencahayaan, periode ketika satelit berada dalam bayangan Bumi, kebutuhan penyimpanan energi, dan keandalan seluruh perangkat.
Semakin besar kemampuan komputasi yang ingin disediakan, semakin kompleks pula sistem pendukung yang harus dibangun.
Project Suncatcher Masih dalam Tahap Awal
Project Suncatcher menunjukkan bahwa Google mulai menguji kemungkinan baru dalam pengembangan infrastruktur AI. Jika teknologi ini berhasil dikembangkan, komputasi di orbit berpotensi menjadi alternatif untuk memenuhi sebagian kebutuhan pemrosesan data pada masa depan.
Namun, masih ada banyak persoalan yang perlu diselesaikan, termasuk ketahanan chip terhadap radiasi, pengelolaan panas, pasokan energi, serta kemampuan perangkat untuk beroperasi secara stabil dalam jangka panjang.
Biaya peluncuran, pemeliharaan, penggantian perangkat, dan komunikasi antara satelit dengan infrastruktur di Bumi juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan sebelum pusat data orbital dapat bersaing dengan fasilitas konvensional.
Untuk saat ini, Project Suncatcher belum dapat dipandang sebagai pengganti pusat data yang berada di daratan. Pengujian awal lebih tepat dipahami sebagai upaya Google mengumpulkan data teknis dan mengevaluasi kelayakan komputasi AI di lingkungan luar angkasa.
Keberhasilan proyek ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan chip AI bekerja di orbit, tetapi juga oleh kemampuan Google membangun sistem yang efisien, andal, dan ekonomis.
Jika berbagai tantangan tersebut dapat diatasi, pusat data di luar angkasa berpotensi menjadi bagian dari perkembangan infrastruktur AI generasi berikutnya. Namun, sebelum sampai ke tahap tersebut, Google masih harus membuktikan bahwa teknologi ini mampu beroperasi secara berkelanjutan di lingkungan yang jauh lebih ekstrem dibandingkan pusat data di Bumi.
