Pertanian Digital Makin Canggih Berkat Teknologi LoRaWAN
- Rita Puspita Sari
- •
- 15 jam yang lalu
Ilustrasi Smart Agriculture
Transformasi digital kini tidak lagi hanya terjadi di kawasan perkotaan atau sektor industri. Dunia pertanian juga mulai memasuki era baru berkat hadirnya teknologi Internet of Things (IoT) yang mampu menghubungkan berbagai perangkat di lahan pertanian secara real-time. Salah satu teknologi yang kini semakin banyak diadopsi adalah LoRaWAN (Long Range Wide Area Network), yang dinilai menjadi solusi konektivitas paling efektif untuk mendukung pertanian cerdas (Smart Agriculture).
LoRa Alliance, organisasi nirlaba yang bertugas mengembangkan dan mempromosikan standar LoRaWAN, mengungkapkan bahwa teknologi tersebut kini telah menjadi pilihan utama bagi berbagai implementasi Smart Agriculture, mulai dari pertanian skala kecil, perkebunan komersial, hingga program pertanian berskala nasional.
Berbeda dengan jaringan komunikasi konvensional yang membutuhkan infrastruktur padat dan sumber listrik yang stabil, LoRaWAN dirancang khusus untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses. Karakteristik inilah yang membuatnya sangat cocok digunakan di lahan pertanian, area peternakan, maupun perkebunan yang umumnya berada jauh dari jaringan seluler dan listrik.
CEO LoRa Alliance, Alper Yegin, mengatakan bahwa keberhasilan LoRaWAN di sektor pertanian tidak lepas dari kemampuannya menjangkau lokasi tempat aktivitas pertanian benar-benar berlangsung.
"LoRaWAN menjadi pilihan utama di sektor Smart Agriculture karena mampu menjangkau lokasi tempat aktivitas pertanian berlangsung. Dengan aksesibilitas tinggi, ekosistem yang matang, serta adopsi global yang luas, teknologi ini mampu menghubungkan lahan terpencil, kawanan ternak yang terus berpindah, hingga perkebunan berskala besar tanpa biaya dan kompleksitas seperti jaringan seluler, Wi-Fi, maupun Bluetooth," ujar Yegin.
Dibangun untuk Menjawab Tantangan Pertanian Modern
Saat ini LoRaWAN telah berkembang menjadi salah satu teknologi konektivitas utama dalam ekosistem Internet of Things (IoT). Bersama jaringan seluler, Wi-Fi, dan Bluetooth, LoRaWAN melengkapi kebutuhan komunikasi perangkat yang memiliki karakteristik berbeda.
Namun, dibandingkan teknologi LPWAN (Low Power Wide Area Network) lainnya, LoRaWAN memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya sangat sesuai digunakan di sektor pertanian.
Keunggulan pertama adalah jangkauan komunikasi yang sangat luas. Satu gateway LoRaWAN mampu melayani area hingga beberapa kilometer, sehingga cukup untuk mencakup hamparan sawah, perkebunan, maupun padang penggembalaan tanpa perlu memasang banyak perangkat jaringan.
Selain itu, LoRaWAN juga dikenal memiliki konsumsi daya yang sangat rendah. Sensor-sensor pertanian dapat beroperasi selama bertahun-tahun hanya menggunakan baterai kecil atau panel surya. Hal ini membuat biaya operasional dan perawatan menjadi jauh lebih efisien dibandingkan teknologi komunikasi lainnya.
Dari sisi biaya, LoRaWAN juga menawarkan keuntungan karena memanfaatkan spektrum frekuensi bebas lisensi. Pengguna tidak memerlukan kartu SIM, biaya langganan jaringan, maupun paket data untuk setiap perangkat yang dipasang.
Keunggulan lainnya adalah kemudahan dalam membangun jaringan secara mandiri. Petani maupun perusahaan agribisnis dapat memasang gateway LoRaWAN sendiri di wilayah yang belum memiliki infrastruktur komunikasi tanpa harus bergantung pada operator telekomunikasi.
Bahkan, ketika jaringan darat sudah tidak tersedia, LoRaWAN masih dapat diperluas menggunakan koneksi satelit, sehingga komunikasi data tetap berjalan hingga ke wilayah pertanian paling terpencil.
Tidak hanya itu, LoRa Alliance mencatat saat ini tersedia lebih dari 650 perangkat LoRaWAN bersertifikat yang dikembangkan oleh lebih dari 334 perusahaan anggota. Beragam pilihan sensor, gateway, hingga perangkat IoT tersebut menjadikan LoRaWAN memiliki salah satu ekosistem perangkat paling lengkap di dunia.
Popularitas teknologi ini juga terus meningkat. Hingga akhir tahun 2025, tercatat lebih dari 125 juta perangkat telah terhubung menggunakan jaringan LoRaWAN di berbagai negara.
Membantu Petani Mendeteksi Penyakit Lebih Cepat
Salah satu implementasi menarik LoRaWAN hadir melalui proyek Banalytics di Ghana dan Brasil yang didukung oleh Lacuna Space.
Proyek ini memanfaatkan sensor LoRaWAN yang terhubung ke satelit untuk mendeteksi Black Sigatoka, penyakit jamur yang menjadi ancaman serius bagi tanaman pisang.
Sensor suhu, kelembapan udara, serta nutrisi tanah dipasang di sejumlah titik pada lahan perkebunan. Selanjutnya, sistem kecerdasan buatan (AI) menganalisis data tersebut guna mendeteksi gejala penyakit sejak tahap awal sebelum menyebar ke tanaman lainnya.
Pendekatan berbasis data ini membantu petani mengurangi penggunaan fungisida yang tidak diperlukan, sekaligus mempertahankan produktivitas kebun, terutama di daerah yang belum terjangkau jaringan komunikasi konvensional.
Memantau Ternak Secara Real-Time
LoRaWAN juga dimanfaatkan di sektor peternakan. Di Australia, perusahaan MooField mengembangkan sistem pelacakan ternak menggunakan penanda telinga berbasis GPS yang memiliki bobot kurang dari 30 gram.
Perangkat tersebut ditenagai panel surya dan terhubung ke gateway LoRaWAN milik RAKwireless.
Melalui sistem ini, peternak dapat mengetahui posisi ternak secara real-time tanpa harus melakukan pencarian secara manual setiap hari.
Keunggulan utama sistem ini adalah kemampuannya tetap bekerja meskipun gateway ditempatkan di tengah area peternakan yang sama sekali tidak memiliki akses listrik. Bahkan, pengembang kini tengah mengembangkan dukungan koneksi satelit agar area pemantauan menjadi semakin luas.
Perkebunan Durian Kini Lebih Efisien
Pemanfaatan LoRaWAN juga dilakukan oleh MIE Agro Farm di Malaysia. Perkebunan durian seluas lebih dari 80 hektare tersebut memasang lebih dari 20 sensor tanah LoRaWAN buatan Seeed Studio untuk memantau sekitar 6.000 pohon durian.
Sebelum sistem ini diterapkan, pengelola kebun membutuhkan waktu sekitar dua jam setiap hari hanya untuk memeriksa kondisi tanaman secara langsung.
Kini seluruh informasi mengenai kelembapan tanah, suhu, dan kondisi lingkungan dapat dipantau secara real-time melalui sensor yang memiliki daya tahan lebih dari tiga tahun dan didukung gateway dengan jangkauan hingga 10 kilometer.
Implementasi tersebut berhasil mengurangi pekerjaan rutin di lapangan sehingga tenaga kerja dapat dialihkan untuk aktivitas lain seperti pemeliharaan tanaman dan peningkatan produktivitas kebun.
Selain itu, seluruh data yang dikumpulkan menjadi dasar penting dalam membangun sistem budidaya durian berbasis data.
Menghemat Air Melalui Irigasi Presisi
Di Bulgaria, LoRaWAN dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air pada lahan budidaya semangka dan kubis. Perusahaan Loren Networks memasang sensor pertanian TELTELIC KIWI yang mampu mengukur kelembapan tanah, suhu udara, kelembapan lingkungan, hingga intensitas cahaya.
Seluruh data dikirim ke platform digital yang dapat dipantau petani melalui smartphone.
Dengan informasi yang diperoleh secara real-time, kebutuhan air dapat disesuaikan berdasarkan kondisi aktual setiap bagian lahan. Cara ini membantu mengurangi pemborosan air sekaligus meningkatkan kesehatan tanaman.
Sensor tersebut juga memiliki masa pakai baterai hingga 10 tahun sehingga hampir tidak membutuhkan perawatan berkala.
Satu Jaringan untuk Berbagai Kebutuhan Pertanian
Keunggulan LoRaWAN tidak hanya terletak pada kemampuan menghubungkan sensor tanah.
Dalam satu jaringan yang sama, petani dapat mengoperasikan berbagai aplikasi sekaligus, mulai dari pemantauan kelembapan dan nutrisi tanah, sistem irigasi otomatis, stasiun cuaca, pengendalian rumah kaca, hingga sistem peringatan dini terhadap embun beku maupun cuaca ekstrem.
Jaringan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mengawasi kondisi reservoir, pompa air, tangki penyimpanan, silo hasil panen, gudang pendingin, kesehatan ternak, hingga keamanan pagar dan peralatan pertanian.
Bahkan, teknologi ini mampu mendukung pemantauan sarang lebah, proses penyerbukan tanaman, serta kualitas air pada sektor akuakultur.
Karena LoRaWAN merupakan standar terbuka, petani dapat memulai implementasi dengan satu aplikasi sederhana, kemudian menambahkan berbagai layanan lainnya sesuai kebutuhan tanpa harus membangun jaringan baru.
Alper Yegin menegaskan bahwa masa depan Smart Agriculture terletak pada kemampuan mengubah lahan pertanian yang sebelumnya terisolasi menjadi lingkungan yang saling terhubung melalui data.
Menurutnya, ketika informasi yang dikumpulkan sensor dapat langsung diolah menjadi tindakan nyata, sektor pertanian akan menjadi lebih produktif, efisien, berkelanjutan, dan memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi tantangan perubahan iklim maupun meningkatnya kebutuhan produksi pangan dunia.
