Atasi Berita Palsu, Rusia gunakan AI untuk Filter Hoax


Artificial Intelligence Russia

Ilustrasi Artificial Intelligence Russia

Menurut Werme (2016), hoax merupakan berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Selain misleading, hoax juga menyesatkan sebab tidak memiliki landasan faktual, tetapi disebarkan seolah-olah hoax yang disebar berupa fakta. Karena keresahan tersebut, beberapa pihak baik suatu negara hingga media sosial berusaha untuk memfilter informasi-informasi yang masuk agar menghambat berita hoax menyebar.

Salah satunya dilakukan oleh negara terluas di dunia, Rusia berencana untuk mengatasi penyebaran berita hoax melalui pembuatan layanan data yang memanfaatkan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan). Nantinya mereka akan mengolah berita yang beredar dan membandingkannya dengan fakta yang ada serta menyeleksi yang palsu atau hoax.

"Deskripsi pekerjaan editor otomatis akan mencakup membandingkan sebanyak mungkin fakta terkait berita dan menemukan yang salah,” tulis wakil kepala Rospechat Ilya Lazarev dalam sebuah surat kepada Kementerian Komunikasi, yang dikutip oleh harian bisnis Moskow RBK pada Selasa (04/08/2020).

Ilya Lazarev, Wakil Kepala Rospechat mengirimkan surat kepada Kementerian Komunikasi yang mengatakan bahwa dengan kecerdasan buatan, mereka akan mengolah dan membandingkan berita yang beredar dengan fakta yang ada sehingga dapat dilakukan penyeleksian berita yang palsu atau hoax. Rospechat meminta dana sebesar 94,3 juta rubel ($ 1,3 juta Amerika Serikat) pada pemerintah Rusia dengan berharap layanan ini akan selesai pada tahun 2023 sehingga dapat digunakan oleh organisasi maupun individu.

Sebelumnya, Human Rights Watch - sebuah kelompok lobi Amerika yang dibiayai oleh investor dan dermawan miliarder Hungaria-Amerika, George Soros - telah mengklaim bahwa pemerintah Rusia telah membangun segudang alat untuk menguasai informasi, pengguna internet, dan jaringan komunikasi yang selanjutnya dapat mencekik media independen di negara.

Penyaringan berita hoax juga sudah dilakukan media sosial Facebook sejak tahun 2016 yang lalu, yang bekerja sama dengan lembaga pemeriksa fakta dan media di berbagai negara. Namun sampai sekarang, proyek tersebut belum berjalan sebab menurut Mark Zuckerberg, proyek penyaringan berita hoax ini memang membutuhkan kecerdasan buatan yang sangat kompleks baik teknik maupun filosofis.

Rusia sendiri telah memperluas undang-undang dan peraturan secara signifikan yang memperketat kontrol atas infrastruktur internet, konten online, dan privasi komunikasi.

Jika dilakukan secara maksimal, langkah-langkah baru tersebut akan sangat merusak kemampuan orang-orang di Rusia untuk menggunakan hak asasi manusia mereka secara online, termasuk kebebasan berekspresi dan kebebasan akses ke informasi.