AWS dan Microsoft Hubungkan Cloud, Koneksi AWS-Azure Makin Mudah
- Rita Puspita Sari
- •
- 2 jam yang lalu
Ilustrasi Multicloud
Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft mengambil langkah baru untuk mempermudah perusahaan yang menjalankan sistem di lebih dari satu layanan cloud. Kedua raksasa teknologi tersebut meluncurkan layanan konektivitas privat yang memungkinkan pelanggan menghubungkan infrastruktur AWS dan Microsoft Azure secara langsung melalui jaringan khusus.
Layanan bernama AWS Interconnect – multicloud with Azure dan Azure Multicloud Interconnect for AWS kini memasuki tahap public preview. Kehadiran layanan ini ditujukan untuk mengurangi kerumitan yang selama ini dihadapi perusahaan ketika harus menghubungkan dua lingkungan cloud berbeda.
Melalui layanan tersebut, pelanggan tidak perlu membangun dan mengelola sendiri koneksi jaringan fisik yang menghubungkan AWS dengan Azure. AWS dan Microsoft akan menangani sebagian besar infrastruktur di balik koneksi tersebut, sementara pelanggan dapat mengatur koneksi secara logis melalui konsol cloud masing-masing.
Langkah ini menjadi penting seiring meningkatnya penggunaan strategi multicloud, yakni kondisi ketika perusahaan menggunakan layanan dari beberapa penyedia cloud sekaligus. Bagi perusahaan besar, penggunaan lebih dari satu cloud dapat memberikan fleksibilitas, tetapi pada saat yang sama juga menambah kompleksitas dalam pengelolaan jaringan.
Koneksi AWS dan Azure Kini Lebih Sederhana
Sebelum layanan baru ini tersedia, perusahaan yang ingin menghubungkan AWS dan Azure harus menangani berbagai kebutuhan teknis secara terpisah. Proses tersebut mencakup penyediaan koneksi fisik, konfigurasi jaringan, pengaturan kapasitas, routing, pemantauan, hingga pemeliharaan koneksi.
Situasi tersebut membuat penerapan multicloud tidak selalu sederhana. Tim teknologi informasi harus memastikan jaringan dari dua platform dapat berkomunikasi dengan baik sekaligus menjaga keamanan dan kestabilan koneksi.
Robert Kennedy, Wakil Presiden Network Services AWS, mengatakan pelanggan menginginkan cara yang lebih praktis untuk menghubungkan beban kerja yang berjalan di AWS dan Azure. Menurutnya, metode lama untuk menghubungkan kedua platform masih terasa rumit bagi pelanggan.
Melalui model baru, AWS dan Microsoft mengambil alih berbagai pekerjaan yang sebelumnya harus dilakukan pelanggan. Kedua perusahaan menangani infrastruktur jaringan fisik, penyediaan kapasitas, konfigurasi VLAN, sesi Border Gateway Protocol (BGP), serta pemeliharaan jaringan.
Pelanggan cukup membuat koneksi Interconnect secara logis melalui layanan cloud yang mereka gunakan. Infrastruktur fisik di belakang koneksi tersebut kemudian dikelola oleh AWS dan Microsoft. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat lebih fokus pada aplikasi dan beban kerja yang dijalankan di cloud tanpa harus terlalu banyak mengurusi infrastruktur jaringan fisik.
Tersedia di Sejumlah Wilayah
Untuk tahap public preview, layanan AWS dan Azure tersebut belum tersedia secara global. AWS mengatakan konektivitas ini tersedia di beberapa wilayah tertentu. Wilayah tersebut mencakup US East di Northern Virginia, US West di Northern California, Asia Pacific di Sydney, serta Europe di Frankfurt.
Dari sisi pengelolaan, pelanggan AWS dapat menggunakan AWS Management Console maupun antarmuka command-line. Sementara pelanggan Azure dapat mengelola koneksi melalui portal Microsoft Azure. Ketersediaan di beberapa wilayah tersebut menjadi tahap awal sebelum AWS dan Microsoft memperluas cakupan layanan.
Kedua perusahaan mengatakan mereka berencana menambah wilayah yang didukung sekaligus memperluas pilihan bandwidth setelah tahap preview selesai.
Tantangan Multicloud Semakin Nyata
Kebutuhan terhadap konektivitas antarkloud muncul karena perusahaan semakin sering menggunakan lebih dari satu penyedia cloud. Ada banyak alasan di balik keputusan tersebut. Sebagian perusahaan mungkin menggunakan beberapa cloud setelah melakukan merger atau akuisisi. Perusahaan lain dapat memiliki aplikasi yang secara alami berjalan di lingkungan cloud berbeda.
Selain itu, kebutuhan regulasi juga dapat membuat perusahaan menyimpan data atau menjalankan aplikasi di lokasi dan platform yang berbeda.
Namun, penggunaan beberapa penyedia cloud juga dapat menimbulkan persoalan baru. Salah satunya adalah bagaimana memastikan seluruh lingkungan tersebut dapat saling terhubung secara aman dan efisien. Penelitian yang dilakukan atas permintaan Competition and Markets Authority (CMA) Inggris sebelumnya menemukan adanya hambatan teknis bagi pelanggan yang menggunakan beberapa penyedia cloud. Masalah jaringan dan konektivitas menjadi salah satu tantangan yang disebutkan.
Perusahaan juga harus menyediakan waktu dan sumber daya teknis untuk mengintegrasikan lingkungan cloud yang berbeda serta memastikan semuanya tetap dapat dipantau dan dikelola.
AWS dan Azure Sama-Sama Banyak Digunakan
Data industri menunjukkan bahwa AWS dan Azure memang menjadi dua platform yang banyak digunakan perusahaan.
Laporan Flexera 2026 State of the Cloud yang melibatkan 753 profesional dan eksekutif cloud menunjukkan 84% responden dari perusahaan besar menggunakan AWS untuk sebagian atau sebagian besar beban kerja mereka. Sementara itu, 82% responden mengatakan mereka menggunakan Azure untuk sebagian atau sebagian besar beban kerja. Flexera juga mencatat bahwa adopsi multicloud meningkat dua poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan beberapa cloud bukan sekadar pilihan teknologi, tetapi sudah menjadi bagian dari lingkungan TI perusahaan.
Menariknya, tidak semua penerapan multicloud direncanakan sejak awal. Merger, akuisisi, aplikasi yang terpisah, serta kebutuhan bisnis tertentu dapat membuat sebuah perusahaan akhirnya harus mengelola beberapa lingkungan cloud. Dalam situasi seperti ini, kemampuan menghubungkan berbagai platform secara mudah menjadi semakin penting.
Menggunakan Standar API Terbuka
AWS dan Microsoft menggunakan spesifikasi API terbuka untuk mendukung interoperabilitas jaringan. Spesifikasi tersebut dirancang untuk menentukan bagaimana penyedia cloud yang berpartisipasi dapat menyediakan dan mengoperasikan koneksi antarkloud.
Keuntungannya, pelanggan tetap dapat menggunakan antarmuka pengelolaan yang sudah mereka kenal di masing-masing platform. AWS sebelumnya sudah menggunakan pendekatan yang sama untuk menghubungkan AWS dengan penyedia cloud lainnya.
Layanan Interconnect – multicloud dengan Google Cloud diperkenalkan lebih dahulu dan tersedia secara umum pada April 2026. Setelah itu, Oracle Cloud Infrastructure memasuki tahap preview pada Mei dan mencapai ketersediaan umum pada Juli.
Kini Microsoft Azure juga menggunakan spesifikasi interoperabilitas yang sama.
Dengan demikian, AWS dapat menyediakan konektivitas multicloud dengan beberapa penyedia cloud, termasuk Azure, Google Cloud, dan Oracle Cloud Infrastructure. Namun, cakupan wilayah dan status layanan dapat berbeda untuk masing-masing penyedia.
Menghubungkan Dua Penyedia Cloud Terbesar
Koneksi AWS dan Azure juga menarik karena mempertemukan dua penyedia infrastruktur cloud terbesar di dunia. Berdasarkan data Synergy Research Group, AWS memiliki pangsa sekitar 28% pasar cloud infrastruktur global pada kuartal II 2026. Microsoft berada di posisi kedua dengan pangsa sekitar 20%, sedangkan Google berada di posisi ketiga dengan sekitar 15%.
Artinya, konektivitas antara AWS dan Azure dapat memberikan dampak cukup besar bagi perusahaan yang mengoperasikan sistem di kedua platform tersebut. AWS mengatakan koneksi AWS-Azure menggunakan kapasitas yang telah disiapkan sebelumnya oleh kedua penyedia. Pelanggan tidak perlu mengatur cross-connect fisik secara individual.
Setiap koneksi memiliki empat jalur logis independen yang melewati fasilitas interconnect dan router berbeda. Arsitektur tersebut dirancang agar koneksi tetap dapat berjalan meskipun terjadi pemeliharaan router atau beberapa gangguan secara bersamaan. Bahkan, koneksi ditujukan tetap tersedia ketika salah satu lokasi interconnect mengalami gangguan.
AWS menargetkan tingkat ketersediaan hingga 99,99%. Microsoft juga menargetkan ketersediaan 99,99% untuk Azure Multicloud Interconnect. Namun, target tersebut belum menjadi SLA resmi selama layanan masih berada dalam tahap public preview.
Keamanan Menggunakan Enkripsi MACsec
Selain konektivitas, keamanan menjadi bagian penting dari layanan baru tersebut. AWS menggunakan teknologi MACsec untuk mengenkripsi lalu lintas data antara router AWS dan Azure. MACsec bekerja pada lapisan data link jaringan. Teknologi tersebut mengenkripsi lalu lintas yang melewati koneksi fisik antara perangkat jaringan.
AWS juga menyediakan CloudWatch Network Synthetic Monitor tanpa biaya tambahan untuk layanan Interconnect – multicloud. Fitur tersebut dapat digunakan untuk memantau sejumlah metrik jaringan, termasuk latensi perjalanan pulang-pergi dan kehilangan paket.
Pelanggan juga dapat membuat alarm CloudWatch berdasarkan ambang batas yang mereka tentukan sendiri. Dengan demikian, tim TI dapat mengetahui ketika kualitas koneksi mengalami penurunan.
Bandwidth Hingga 100 Gbps
Dalam hal kapasitas, Microsoft mengatakan Azure Multicloud Interconnect nantinya dapat mendukung kecepatan koneksi hingga 100 Gbps ketika layanan mencapai tahap general availability. Namun, selama masa public preview, dokumentasi AWS menyebutkan koneksi dibatasi hingga 1 Gbps.
Selain itu, koneksi dapat diperluas menggunakan Azure Private Link. Fitur ini memungkinkan pelanggan membuat jalur jaringan privat menuju layanan Azure yang didukung. Kemampuan tersebut dapat membantu perusahaan membangun arsitektur yang lebih terintegrasi tanpa harus mengandalkan jalur internet publik untuk seluruh komunikasi antarlayanan.
Masuk di Tengah Sorotan Regulator
Peluncuran konektivitas AWS-Azure juga terjadi ketika interoperabilitas layanan cloud mendapat perhatian dari regulator. CMA Inggris sebelumnya menyelidiki pasar layanan infrastruktur cloud dan menemukan adanya hambatan komersial maupun teknis yang dapat menyulitkan pelanggan menggunakan beberapa cloud sekaligus atau berpindah penyedia.
Pada 2024, AWS mengatakan pelanggan dapat menggunakan beberapa cloud dan berpindah penyedia jika diperlukan. Microsoft juga mengakui bahwa penggunaan beberapa cloud belum selalu mudah atau praktis bagi pelanggan, meskipun menurut perusahaan minat terhadap integrasi multicloud di luar kebutuhan khusus masih terbatas.
Dalam laporan akhirnya pada Juli 2025, CMA menyimpulkan bahwa berbagai hambatan masih membatasi kemampuan pelanggan untuk berpindah penyedia, menggunakan beberapa cloud publik, serta mengintegrasikan layanan dari penyedia berbeda.
Pada Maret 2026, CMA mengatakan AWS dan Microsoft telah mengambil langkah penting untuk mengatasi persoalan interoperabilitas dan biaya cloud egress. Namun, regulator tersebut menilai masih diperlukan langkah lanjutan agar pelanggan lebih mudah menggunakan beberapa penyedia cloud dan berpindah di antara mereka.
Belum Ada Jadwal General Availability
Untuk saat ini, Azure Multicloud Interconnect masih berstatus public preview. AWS dan Microsoft belum memberikan tanggal kapan layanan tersebut akan tersedia secara umum. Microsoft juga mengingatkan bahwa fitur, target performa, dan jadwal peluncuran masih dapat berubah sebelum layanan mencapai tahap general availability.
AWS mengatakan Interconnect – multicloud dapat digunakan untuk menghubungkan sejumlah layanan AWS, termasuk Amazon Virtual Private Cloud (VPC), AWS Transit Gateway, dan AWS Cloud WAN, dengan jaringan yang berada pada penyedia cloud lain yang berpartisipasi.
Ke depan, AWS dan Microsoft berencana memperluas jangkauan regional serta pilihan bandwidth.
Jika layanan ini berjalan sesuai rencana, perusahaan yang menggunakan AWS dan Azure tidak lagi harus menghadapi sebagian besar kerumitan dalam membangun koneksi fisik antarkloud.
Bagi dunia usaha, langkah tersebut dapat menjadi perkembangan penting dalam penerapan strategi multicloud. Dengan konektivitas privat yang dikelola langsung oleh dua penyedia cloud besar, perusahaan berpotensi memperoleh cara yang lebih sederhana untuk menjalankan aplikasi dan beban kerja di AWS dan Azure secara bersamaan.
