Bukan AWS atau Azure, Brookfield Hadir dengan Model Cloud Berbeda
- Rita Puspita Sari
- •
- 07 Jan 2026 17.12 WIB
Ilustrasi Strategi Cloud Perusahaan
Selama lebih dari satu dekade, pasar komputasi awan atau cloud computing dikuasai oleh segelintir perusahaan raksasa teknologi yang dikenal sebagai hyperscaler. Nama-nama seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud menjadi pilihan utama perusahaan global dalam mengelola data, aplikasi, hingga beban kerja digital berskala besar. Namun, dinamika industri cloud kini mulai mengalami perubahan mendasar. Bukan lagi soal siapa yang mengoperasikan platform cloud, melainkan siapa yang menguasai infrastruktur fisik yang menopang seluruh ekosistem tersebut.
Perubahan ini terlihat dari rencana Brookfield Asset Management, salah satu perusahaan pengelola aset terbesar di dunia, yang dikabarkan tengah bersiap meluncurkan bisnis cloud. Langkah Brookfield ini menandai babak baru dalam cara perusahaan-perusahaan besar memperoleh kapasitas komputasi, khususnya di era Artificial Intelligence (AI) yang semakin rakus sumber daya.
Dorongan utama di balik perubahan ini adalah melonjaknya kebutuhan akan daya komputasi akibat pesatnya adopsi AI. Beban kerja AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar, chip berperforma tinggi, serta kapasitas pusat data yang jauh lebih kompleks dibandingkan aplikasi perusahaan konvensional. Tekanan tersebut mulai dirasakan oleh penyedia cloud tradisional, yang kini menghadapi keterbatasan pasokan chip, kenaikan biaya energi, dan kendala pembangunan pusat data baru akibat regulasi serta keterbatasan jaringan listrik.
Menurut sejumlah sumber yang mengetahui rencana tersebut, strategi Brookfield tidak berfokus pada penyediaan platform cloud lengkap seperti hyperscaler. Sebaliknya, perusahaan ini akan menitikberatkan bisnisnya pada penyewaan chip berperforma tinggi kepada pengembang AI dan perusahaan besar. Layanan ini akan didukung oleh portofolio Brookfield yang luas, mulai dari pusat data hingga aset energi yang tersebar di berbagai wilayah.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Brookfield ingin menguasai lapisan fisik yang kini menjadi fondasi utama pengembangan AI. Meski bukan sepenuhnya konsep baru, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemain non-tradisional—terutama manajer aset dan investor infrastruktur—mulai mengambil peran penting sebagai pemasok utama dalam ekonomi cloud global.
Permintaan Cloud Tak Lagi Sekadar Soal Perangkat Lunak
Bagi banyak perusahaan besar, strategi cloud kini tidak lagi hanya berkutat pada pemilihan layanan antara AWS, Azure, atau Google Cloud. Tantangan yang semakin krusial adalah bagaimana mendapatkan akses terhadap sumber daya yang semakin langka, seperti chip AI generasi terbaru, pasokan listrik yang stabil, serta ruang pusat data yang memadai.
Pelatihan model AI dan proses inferensi membutuhkan daya komputasi jauh lebih besar dibandingkan aplikasi bisnis biasa. Sementara itu, pasokan chip masih terbatas secara global, biaya energi terus meningkat, dan pembangunan pusat data baru sering kali terhambat oleh regulasi lingkungan serta keterbatasan infrastruktur kelistrikan. Kondisi ini memperlebar kesenjangan antara permintaan cloud yang terus melonjak dan kapasitas fisik yang tersedia.
Kesenjangan inilah yang menciptakan peluang bagi Brookfield. Dengan menawarkan model penyewaan chip dan infrastruktur, Brookfield menyasar perusahaan-perusahaan yang menginginkan skala komputasi layaknya cloud, tetapi tanpa ketergantungan penuh pada satu hyperscaler. Bagi banyak perusahaan, opsi ini dinilai lebih fleksibel dan strategis dalam jangka panjang.
Model Penyedia Cloud yang Tidak Biasa
Masuknya Brookfield ke bisnis cloud jelas berbeda dari peluncuran cloud pada umumnya. Tidak ada platform pengembang, marketplace, atau rangkaian layanan terkelola yang biasa ditawarkan oleh penyedia cloud tradisional. Fokus Brookfield justru berada pada kontrak jangka panjang dan kepemilikan aset fisik yang menjadi tulang punggung beban kerja AI.
Model bisnis ini lebih menyerupai cara perusahaan besar mengelola aset strategis lainnya, seperti pabrik, pusat logistik, atau pasokan energi. Pendekatan tersebut juga mencerminkan praktik yang selama ini dilakukan hyperscaler di balik layar, yakni berinvestasi besar-besaran pada lahan, listrik, dan perangkat keras untuk mengamankan kapasitas jangka panjang.
Perbedaannya, Brookfield menawarkan infrastruktur tersebut secara langsung kepada pelanggan dan pengembang, tanpa membungkusnya dalam satu tumpukan layanan cloud terintegrasi. Bagi sebagian perusahaan, model ini dapat membantu mengurangi risiko fluktuasi harga layanan cloud, menghindari keterbatasan kapasitas, atau menjadi pelengkap dari penggunaan cloud publik yang sudah ada.
Tekanan terhadap Hyperscaler Kian Terasa
Meski demikian, hyperscaler belum kehilangan peran dominannya. Mereka tetap menguasai lapisan perangkat lunak, layanan terkelola, dan ekosistem pengembang global. Namun, ekspansi mereka kini semakin mahal dan dibatasi oleh keterbatasan fisik yang nyata.
Ketersediaan listrik telah menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah pusat data dunia. Peningkatan kapasitas jaringan listrik memerlukan waktu panjang, sementara biaya energi sangat bervariasi antar wilayah. Di sisi lain, tingginya permintaan chip kelas AI memaksa penyedia cloud memprioritaskan pelanggan besar, meninggalkan perusahaan lain dalam antrean panjang.
Dalam kondisi seperti ini, kemitraan dengan pemilik infrastruktur menjadi semakin menarik. Pertumbuhan industri cloud kini menarik masuk pemain yang sebelumnya berada di luar ekosistem teknologi, seperti manajer aset dan perusahaan properti, yang memiliki keunggulan dalam hal skala, pembiayaan, serta jangka kontrak yang panjang.
Keputusan terkait cloud di tingkat direksi perusahaan pun semakin kompleks. Tidak hanya melibatkan tim TI, tetapi juga keuangan dan properti. Pertanyaan seputar biaya, rantai pasok, dan ketersediaan kapasitas kini menjadi sama pentingnya dengan performa teknis atau fitur layanan.
Rencana bisnis cloud Brookfield menjadi indikasi kuat bahwa masa depan industri cloud tidak hanya akan ditentukan oleh perusahaan teknologi, tetapi juga oleh mereka yang menguasai modal, lahan, energi, dan perangkat keras. Pergeseran ini berpotensi mengubah peta persaingan cloud global dalam beberapa tahun ke depan.
