Mesin Pemblokiran IMEI Dijadwalkan Rampung Pada Bulan Agustus


Blokir Imeii

Ilustrasi Blokir Imeii

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mengoptimalkan penggunaan mesin Centralized Equipment Identity Register (CEIR) untuk memvalidasi International Mobile Equipment Identity (IMEI) guna memblokir ponsel black market (BM) atau ilegal. Pemblokiran tersebut guna memblokir sinyal pada ponsel BM atau ilegal. Apabila IMEI tidak terdaftar maka ponsel tersebut tidak akan mendapat jaringan di Indonesia.

Achmad Rodjih, Direktur Industri Elektronika dan Telematika Ditjan ILMATE Kementerian Perindutrian mengatakan bahwa mesin masih belum diterima oleh pihak Kominfo. Achmad mengatakan, mesin tersebut dijadwalkan baru akan diterima pada Agustus 2020 mendatang.

"Sistem yang akan dijalankan sementara waktu adalah cloud computing karena perangkat fisik untuk memasang sistem CEIR direncanakan tiba di Indonesia sekitar bulan Agustus 2020", ungkap Rodjih.

Dalam waktu yang sama, Nur Akbar, Kepala Subdirektorat Kualitas Layanan dan Harmonisasi Standar Perangkat Pos dan Informatika Kominfo, mengatakan CEIR versi cloud dengan hardware memiliki fungsi yang sama yaitu pemblokiran IMEI jika produk atau ponsel tidak teregistrasi dalam TPP Produk, TPP Import dan data operator.

Saat ini Kementerian sedang melakukan uji coba terhadap sistem dan berupaya untuk mengoptimalkan penggunaan sistem lebih cepat serta tidak berdampak pada pengguna nomor seluler lain.

Sebelumnya, sejak 18 April lalu regulasi pemblokiran ponsel BM melalui nomor IMEI sudah diimplementasikan. Namun, penerapan aturan ini dinilai belum optimal, karena ponsel BM masih dapat terhubung dengan jaringan seluler. Pengamat telekomunikasi, Moch S. Hendrowijono mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh mesin CEIR yang dioperasikan Kemenperin belum berjalan dengan optimal.

Menurut jadwal, CEIR versi hardware akan optimal pada 24 Agustus, namun, kementerian mengupayakan agar sistem tersebut dapat digunakan lebih cepat.

"Tanggal 24 Agustus, CEIR versi hardware sudah bisa dioptimalkan. Tapi, kami berharap bisa lebih cepat waktu yang dijadwalkan. SDM dan infrastruktur secara terus menerus kami persiapkan agar siap pada waktunya," ujar Achmad, Rabu (24/6/2020).