Microsoft Fokus Hybrid Cloud di Indonesia


haris

 

Microsoft, perusahaan teknologi Global fokus menggunakan Hybrid Cloud untuk mengakomodasi kebutuhan penyimpanan data di Indonesia. Layanan itu dinilai jauh lebih efisien, andal, dan komprehensif dibandingkan mengandalkan kemampuan penyimpanan di pusat data (data center).

“Kami yakin layanan hybrid cloud yang kami jalankan selama ini sudah sejalan dengan dinamika kebutuhan konsumen. Selain itu layanan ini juga tetap sesuai dan tunduk pada regulasi yang ditetapkan pemerintah Indonesia,” ujar President Director Microsoft Indonesia, Haris Izmee dalam pembukaan Microsoft Cloud Innovation Summit 2019 di Jakarta, Rabu 13 November 2019.

Saat disinggung mengenai kemungkinan pembangunan availability zone Microsoft Azure di Indonesia, Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee menjelaskan Microsoft selalu mencari cara yang berbeda dan akan terus meninjau berbagai pasar di dunia untuk meningkatkan dan memperluas skalabilitas infrastruktur cloud miliknya.

“Kami sudah memiliki infrastruktur terbesar di dunia karena jumlah semua infrastruktur cloud kami bila digabungkan masih lebih besar daripada gabungan infrastruktur cloud semua kompetitor kami,” kata Haris.

Microsoft memiliki sejumlah strategi diantaranya adalah membangun jalan menuju cloud via teknologi hybrid. Dengan cara ini Microsoft menawarkan nilai berupa kemudahan dan kenyamanan bagi pelanggan untuk berpindah dari on-prem ke cloud atau sebaliknya. Selanjutnya Haris menjelaskan teknologi hybrid cloud mampu memberikan layanan maksimal untuk para konsumen.

“Dengan kemudahan akses yang dapat dilakukan di seluruh dunia, teknologi cloud yang terhubung dengan data center di sejumlah negara membuat akses terhadap data tidak terbatas,” ujar Haris.

Teknologi Hybrid Microsoft yang utama adalah Azure Stack. Dimana dengan menggunakan Azure Stack, data-data penting bisnis dapat tetap berada di Indonesia dan sesuai regulasi yang berlaku sehingga perusahaan akan merasa tenang dan aman. Namun ketika perusahaan membutuhkan sumber daya komputasi tinggi untuk pemrosesan kebutuhan analytics atau AI, perusahaan bisa menggunakan layanan yang ada di Azure global.

“Azure Stack akan membantu pelanggan kami memperoleh the best of both worlds (on-prem dan cloud). Data ada di on-premises tapi bisa pakai fitur-fitur advanced yang ada di public cloud. Dan ini sudah kami terapkan di acara Asian Games lalu, data atlet tetap di server di Indonesia, tapi semua analytics dan AI dari public cloud,” ujar Haris Izmee.

Haris menambahkan mitra bisnis Microsoft di Indonesia sudah mengoperasikan data center dengan teknologi Azure sejak 1,5 tahun lalu. Ditambah lagi dengan ketersediaan layanan Edge Node dan ExpressRoute yang akan meningkatkan latency serta meningkatkan kualitas layanan-layanan tertentu dari Azure yang diakses pelanggan di Indonesia. Langkah yang diambil Microsoft untuk memperluas ekosistem cloud-nya, mereka menjalin kemitraan dengan vendor-vendor teknologi lainnya, termasuk para penyedia teknologi opensource.

“Kami lebih mendorong ke arah hybrid cloud karena kami sangat yakin ini 100 persen compliant dengan aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. (Strategi) ini juga kami lakukan di berbagai negara di dunia, bukan hanya di Indonesia, Kami bermitra, antara lain, dengan Red Hat, SAP, Adobe, VMware dan banyak lagi” ujar Haris.