Amazon Ubah Strategi AWS karena Keterbatasan Daya


Ilustrasi Sustainable Technology

Ilustrasi Sustainable Technology

Amazon mulai mengubah strategi pengelolaan infrastrukturnya dengan menyebarkan sebagian workload atau beban kerja e-commerce ke lebih banyak wilayah Amazon Web Services (AWS). Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan kapasitas pusat data dan keterbatasan pasokan listrik di sejumlah lokasi, termasuk Dublin, Irlandia.

Program yang berlangsung selama beberapa tahun tersebut secara internal disebut “Region Flex”. Berdasarkan dokumen perencanaan internal yang dilansir dari Business Insider, program ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan Amazon terhadap sejumlah wilayah AWS berkapasitas besar sekaligus mendistribusikan beban kerja ke lokasi yang lebih beragam.

Keterbatasan daya listrik dan kapasitas pusat data menjadi salah satu pertimbangan dalam program tersebut. Salah satu rencana yang tercantum dalam dokumen menyebut Amazon akan memindahkan sebagian infrastruktur dari AWS Region Dublin karena terdapat risiko ekspansi yang berkaitan dengan ketersediaan listrik.

Sementara itu, dokumen lainnya menyebut Amazon membutuhkan kapasitas regional tambahan untuk mengantisipasi kebutuhan infrastruktur pada masa mendatang.

Amazon mengonfirmasi kepada Business Insider bahwa program Region Flex memang ada. Namun, perusahaan menegaskan bahwa sebagian jadwal dan detail yang tercantum dalam dokumen tersebut sudah tidak akurat atau tidak lagi mencerminkan rencana terbaru.

Amazon mengatakan perubahan infrastruktur merupakan proses yang terus dilakukan untuk meningkatkan keandalan layanan, mengendalikan biaya, sekaligus menempatkan layanan lebih dekat dengan pelanggan.

 

Workload Amazon Dipindahkan ke Sejumlah Wilayah

Salah satu perubahan yang dilaporkan dalam program Region Flex adalah pemindahan sejumlah beban kerja dari Dublin ke wilayah AWS lain, termasuk Frankfurt, Jerman, dan Zaragoza, Spanyol.

Selain itu, juga dilaporkan bahwa Amazon sempat mempertimbangkan untuk mengurangi jejak infrastruktur operasional e-commerce di Dublin serta beberapa lokasi AWS yang telah lama menjadi bagian dari infrastrukturnya. Langkah tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan listrik kini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan lokasi infrastruktur cloud berskala besar.

Selama ini, perusahaan teknologi dapat memilih lokasi pusat data berdasarkan sejumlah pertimbangan, seperti kedekatan dengan pelanggan, konektivitas jaringan, biaya operasional, regulasi, hingga ketersediaan sumber daya.

Namun, pertumbuhan layanan cloud dan kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan terhadap pusat data dan listrik meningkat pesat. Kondisi tersebut membuat perusahaan seperti Amazon harus mempertimbangkan lebih banyak faktor sebelum menempatkan infrastruktur di suatu wilayah.

Region Flex sendiri berbeda dengan sekadar membagi beban kerja di antara Availability Zone dalam satu wilayah AWS. Program ini melibatkan perpindahan beban kerja antarwilayah geografis AWS yang berbeda.  AWS Region memiliki beberapa Availability Zone yang terdiri dari pusat data dan infrastruktur terpisah. Arsitektur tersebut dirancang untuk meningkatkan ketersediaan dan ketahanan layanan apabila terjadi gangguan pada salah satu lokasi.

Saat ini, AWS mengoperasikan 123 Availability Zone di 39 wilayah geografis. AWS juga telah mengumumkan rencana untuk menambah tujuh Availability Zone dan dua wilayah baru.

 

Memindahkan Infrastruktur Tidak Gratis

Distribusi beban kerja ke lebih banyak wilayah memang dapat meningkatkan ketahanan infrastruktur, tetapi langkah tersebut juga memiliki konsekuensi dari sisi biaya dan operasional. AWS menjelaskan bahwa harga sumber daya dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Faktor yang memengaruhi antara lain harga lahan, jaringan fiber, listrik, hingga pajak.

Karena itu, pemilihan AWS Region tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan ketersediaan kapasitas. Pelanggan juga perlu mempertimbangkan latensi, lokasi penyimpanan data, biaya, kebutuhan performa, serta ketersediaan layanan. Pemindahan data antarwilayah juga dapat menimbulkan biaya tambahan. AWS mengenakan biaya untuk jenis lalu lintas data tertentu yang dikirim dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Besarnya biaya bergantung pada lokasi sumber dan tujuan transfer.

Bagi Amazon, pemindahan sejumlah layanan dari Dublin ke Frankfurt dan Zaragoza dilaporkan dapat meningkatkan biaya infrastruktur. Penyebaran beban kerja ke beberapa lokasi dapat mengurangi efisiensi penggunaan infrastruktur dibandingkan jika seluruh beban kerja ditempatkan dalam satu lokasi besar.

Selain biaya, kompleksitas pengelolaan juga meningkat.

Menjalankan aplikasi dan layanan di beberapa wilayah membutuhkan tambahan infrastruktur, pemantauan, serta pekerjaan operasional. Perusahaan juga harus memastikan sistem dapat berkomunikasi dan melakukan failover dengan baik ketika salah satu wilayah mengalami gangguan.

Dengan kata lain, semakin banyak wilayah yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan untuk mengelola ketergantungan antarwilayah.

 

AWS Tetap Agresif Menambah Kapasitas

Di tengah persoalan keterbatasan daya, Amazon tidak mengurangi investasi infrastrukturnya. Sebaliknya, perusahaan justru terus meningkatkan kapasitas AWS untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan cloud dan AI. CEO Amazon Andy Jassy mengatakan AWS akan terus menambah kapasitas. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Amazon melaporkan kinerja kuartal kedua perusahaan pada Juli.

Amazon bahkan menaikkan rencana belanja modal atau capital expenditure (capex) 2026 dari US$200 miliar menjadi US$220 miliar. Jassy menyebut kenaikan biaya memori sebagai salah satu faktor utama di balik peningkatan anggaran tersebut. Meski demikian, sebagian besar belanja modal Amazon tetap diarahkan untuk pengembangan infrastruktur AI dan pusat data.

Sebelumnya, Amazon juga telah meningkatkan kapasitas listrik untuk mendukung infrastruktur AWS.

Pada Oktober 2025, perusahaan menyatakan telah menambahkan lebih dari 3,8 gigawatt kapasitas daya listrik dalam periode 12 bulan sebelumnya. Dalam laporan kinerja pada 30 Juli, Jassy mengatakan AWS masih berada di jalur untuk menggandakan kapasitas dayanya pada akhir 2027 dibandingkan tingkat kapasitas pada 2025.

Investasi tersebut tidak hanya mencakup pembangunan gedung pusat data. Amazon harus menyediakan lahan, listrik, chip, server, perangkat jaringan, serta berbagai komponen pendukung lainnya sebelum kapasitas dapat dimanfaatkan pelanggan.

Kebutuhan tersebut semakin besar seiring meningkatnya permintaan terhadap layanan AI generatif dan komputasi berperforma tinggi yang membutuhkan daya jauh lebih besar dibandingkan beban kerja cloud tradisional.

 

Irlandia Menghadapi Tekanan Konsumsi Listrik

Persoalan pasokan listrik menjadi semakin relevan di Irlandia, salah satu lokasi penting bagi industri pusat data dan infrastruktur cloud. Data dari Central Statistics Office (CSO) Irlandia menunjukkan pusat data mengonsumsi 7.663 GWh listrik sepanjang 2025. Angka tersebut naik 10% dari 6.973 GWh pada tahun sebelumnya.

Pusat data menyumbang sekitar 23% konsumsi listrik yang tercatat di Irlandia pada 2025. Angka ini meningkat drastis dibandingkan 2015 ketika pusat data hanya menyumbang sekitar 5%. Pada periode yang sama, konsumsi listrik dari seluruh pengguna lain yang tercatat hanya meningkat sekitar 2% antara 2024 dan 2025.

Pertumbuhan konsumsi tersebut membuat pemerintah dan regulator Irlandia semakin memperhatikan dampak ekspansi pusat data terhadap jaringan listrik nasional.

Pada Desember 2025, Irlandia memperketat persyaratan bagi pusat data baru yang ingin mendapatkan koneksi ke jaringan listrik. Commission for Regulation of Utilities (CRU) mengatakan kebijakan tersebut mempertimbangkan kondisi jaringan listrik, kapasitas jaringan, keamanan pasokan listrik, serta kecukupan pembangkit.

Berdasarkan aturan baru itu, pusat data yang mengajukan koneksi harus menyediakan kapasitas pembangkit listrik atau penyimpanan energi yang mampu mengimbangi kapasitas maksimum listrik yang diminta. Pusat data juga diwajibkan memenuhi setidaknya 80% kebutuhan listrik tahunannya melalui proyek energi terbarukan tambahan yang berlokasi di Irlandia. Pengembang diberikan waktu hingga enam tahun agar proyek energi terbarukan tersebut dapat beroperasi.

 

Konsumsi Pusat Data Diproyeksikan Meningkat

Tekanan terhadap jaringan listrik Irlandia kemungkinan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Berdasarkan proyeksi EirGrid yang dikutip CRU, konsumsi listrik pusat data diperkirakan meningkat dari 9,4 TWh pada 2025 menjadi 14,6 TWh pada 2034.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, pusat data dapat menyumbang sekitar 31% dari total permintaan listrik nasional Irlandia pada 2034. Angka tersebut menggambarkan besarnya tantangan yang harus dihadapi negara maupun perusahaan teknologi ketika membangun pusat data dalam skala besar.

Di satu sisi, pusat data dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan cloud, AI, layanan digital, dan berbagai aplikasi online. Di sisi lain, fasilitas tersebut membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan harus mendapatkan pasokan yang stabil.

 

Listrik Kini Menjadi Faktor Strategis Cloud

Perubahan strategi Amazon melalui Region Flex menunjukkan bahwa persoalan listrik mulai menjadi bagian dari pertimbangan strategis dalam pembangunan infrastruktur cloud. AWS selama ini mendorong pelanggan mempertimbangkan berbagai faktor saat memilih wilayah, mulai dari kepatuhan terhadap regulasi, latensi, biaya hingga ketersediaan layanan.

Namun, bagi perusahaan sebesar Amazon, ketersediaan daya dan kapasitas pusat data juga menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi infrastruktur. Pemindahan sebagian beban kerja dari Dublin ke Frankfurt dan Zaragoza memperlihatkan bagaimana perusahaan dapat menggunakan jaringan wilayah cloud yang luas untuk menghadapi keterbatasan di lokasi tertentu.

Strategi tersebut memungkinkan Amazon tetap memperluas kapasitas layanan tanpa sepenuhnya bergantung pada satu wilayah. Meski demikian, konsekuensinya adalah biaya dan kompleksitas pengelolaan yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, Region Flex bukan sekadar strategi distribusi infrastruktur AWS, tetapi juga mencerminkan perubahan lanskap industri pusat data. Ketika kebutuhan cloud dan AI terus meningkat, perusahaan teknologi tidak hanya berlomba membangun server dan pusat data, tetapi juga harus memastikan tersedianya listrik yang cukup untuk mengoperasikan semuanya.

Bagi Amazon, tantangan tersebut menjadi semakin penting karena perusahaan berkomitmen terus memperbesar kapasitas AWS. Dengan investasi ratusan miliar dolar dan kebutuhan energi yang terus meningkat, ketersediaan listrik berpotensi menjadi salah satu faktor penentu lokasi pusat data dan beban kerja cloud pada tahun-tahun mendatang.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait