Tencent dan Alibaba Perluas Infrastruktur Cloud di Asia Pasifik


Ilustrasi Infrastruktur Cloud

Ilustrasi Infrastruktur Cloud

Persaingan penyedia layanan cloud di kawasan Asia-Pasifik semakin sengit. Tencent Cloud dan Alibaba Cloud sama-sama memperluas infrastruktur mereka di Asia dengan membidik dua pasar yang dinilai strategis, yakni Malaysia dan Korea Selatan.

Tencent Cloud berencana membangun cloud region pertamanya di Malaysia, sedangkan Alibaba Cloud telah meluncurkan pusat data ketiganya di Korea Selatan. Ekspansi ini dilakukan ketika permintaan terhadap komputasi cloud terus meningkat, terutama akibat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kedua perusahaan mengumumkan langkah tersebut pada 18 Agustus. Tencent akan membangun infrastruktur cloud di Johor, Malaysia, dengan kapasitas hingga tiga availability zone atau zona ketersediaan. 

Sementara itu, Alibaba menambah kapasitas layanan cloud di Korea Selatan melalui fasilitas pusat data terbarunya yang dirancang untuk menangani berbagai kebutuhan komputasi, termasuk beban kerja AI.

 

Alibaba Perkuat Infrastruktur Cloud di Korea Selatan

Kehadiran pusat data ketiga menandai semakin seriusnya Alibaba dalam mengembangkan bisnis cloud di Korea Selatan. Perusahaan asal China tersebut mulai memasuki pasar Korea Selatan pada 2016 dan membuka pusat data pertamanya di negara itu pada 2022.

Pusat data ketiga Alibaba hadir hanya sekitar satu tahun setelah perusahaan menambahkan fasilitas keduanya. Meski demikian, Alibaba belum mengungkapkan lokasi fisik secara spesifik dari pusat-pusat data yang mereka operasikan di Korea Selatan.

Fasilitas terbaru tersebut akan menyediakan beragam layanan cloud, mulai dari komputasi, penyimpanan data, jaringan, keamanan, hingga basis data. Infrastruktur itu juga disiapkan untuk mendukung berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan AI.

Country Manager Alibaba Cloud Intelligence untuk Korea Selatan, Yongjoon Yoon, mengatakan investasi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan di pasar Korea Selatan.

Menurutnya, pembangunan pusat data ketiga bukan hanya soal menambah kapasitas infrastruktur. Alibaba ingin membantu perusahaan-perusahaan Korea Selatan menjalankan layanan berbasis cloud dan AI secara lebih andal.

Ekspansi di Korea Selatan juga menjadi bagian dari komitmen investasi Alibaba senilai sedikitnya 380 miliar yuan atau sekitar 53 miliar dolar AS selama tiga tahun. Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan infrastruktur AI dan cloud.

Alibaba sebelumnya telah memperluas infrastrukturnya di sejumlah negara, termasuk Prancis, Jepang, Malaysia, dan Meksiko. Secara global, perusahaan kini mengoperasikan 104 availability zone di 30 wilayah.

 

Bisnis Cloud Alibaba Tumbuh Berkat AI

Ekspansi infrastruktur Alibaba berlangsung ketika bisnis cloud perusahaan juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Pendapatan Alibaba Cloud Intelligence meningkat 38 persen pada kuartal terakhir yang dilaporkan. Produk berbasis AI juga menyumbang sekitar 30 persen dari pendapatan cloud eksternal perusahaan.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa AI mulai memainkan peran penting dalam bisnis cloud. Perusahaan membutuhkan kapasitas komputasi yang jauh lebih besar untuk menjalankan model AI, mengolah data dalam jumlah besar, serta menyediakan layanan digital dengan kebutuhan komputasi tinggi.

Alibaba bahkan memperkirakan belanja infrastruktur AI-nya dapat melampaui program investasi 380 miliar yuan yang diumumkan pada 2025. Langkah tersebut menunjukkan bahwa penyedia cloud tidak lagi sekadar berlomba menyediakan ruang penyimpanan atau server. Infrastruktur cloud kini menjadi fondasi penting bagi perkembangan AI generatif dan berbagai aplikasi digital.

 

Tencent Siapkan Cloud Region Pertama di Malaysia

Di sisi lain, Tencent Cloud mengambil langkah strategis dengan merencanakan pembangunan cloud region pertamanya di Malaysia. Cloud region tersebut akan berlokasi di Johor dan memiliki hingga tiga availability zone. Tencent mengatakan infrastruktur lokal itu akan mendukung berbagai kebutuhan perusahaan, termasuk beban kerja AI, aplikasi yang memproses data dalam jumlah besar, serta layanan digital.

Vice President Tencent Cloud sekaligus Managing Director Tencent Cloud International untuk Asia Pasifik, Bluefin Jiannan Zhao, menilai Malaysia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat operasi Tencent Cloud di Asia Tenggara. Potensi tersebut didukung oleh perkembangan infrastruktur teknologi serta ketersediaan tenaga kerja di Malaysia.

Tencent menyebut Malaysia sebagai salah satu pasar penting dalam strategi pertumbuhan cloud mereka di Asia. Kehadiran cloud region baru ini sekaligus memperluas jaringan Tencent di Asia Tenggara yang sebelumnya sudah mencakup negara seperti Singapura, Indonesia, dan Thailand.

Pada saat pengumuman dibuat, Tencent Cloud International menyatakan jaringan infrastrukturnya telah mencakup 66 availability zone di 23 wilayah. Peluang bisnis di Malaysia juga disebut semakin besar. General Manager Tencent Cloud International dan Tencent Cloud Malaysia, Nucky Fang, mengatakan perusahaan melihat lebih banyak peluang di negara tersebut dalam enam bulan terakhir.

Sektor yang dinilai memiliki potensi besar antara lain perbankan, asuransi, perusahaan pembayaran, serta berbagai perusahaan besar lainnya.

 

Johor Jadi Magnet Investasi Pusat Data

Pemilihan Johor sebagai lokasi pembangunan cloud region Tencent bukan tanpa alasan. Wilayah tersebut telah berkembang menjadi salah satu pusat utama pembangunan pusat data di Malaysia. Menurut laporan Reuters pada Juli, Johor telah menarik investasi sekitar 35 miliar dolar AS untuk sektor pusat data.

JLL memperkirakan kapasitas pusat data di Johor, termasuk proyek yang sedang dibangun dan masih berada dalam tahap perencanaan, dapat mencapai sekitar 7 GW. Jumlah tersebut sekitar delapan kali lebih besar dibandingkan kapasitas yang tersedia saat ini.

Namun, pertumbuhan pusat data dalam skala besar juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait konsumsi listrik dan air. Pusat data membutuhkan pasokan listrik yang stabil karena server harus beroperasi sepanjang waktu. Selain itu, sistem pendingin fasilitas juga dapat membutuhkan air dalam jumlah besar.

Karena itu, proyek pusat data baru di Johor harus menjelaskan sumber listrik yang akan digunakan. Pemerintah setempat juga mulai membatasi desain pusat data yang membutuhkan konsumsi air sangat tinggi. Otoritas investasi Malaysia memperkirakan kebutuhan listrik yang berasal dari pusat data dapat menembus lebih dari 5.000 MW pada 2035.

 

Tencent Hadapi Persaingan Ketat di Malaysia

Tencent tidak memasuki pasar Malaysia sendirian. Sejumlah raksasa cloud global telah lebih dulu membangun infrastruktur di negara tersebut. Amazon Web Services atau AWS membuka cloud region Malaysia dengan tiga availability zone pada Agustus 2024. Sementara itu, Microsoft Malaysia West dengan tiga availability zone mulai tersedia secara umum pada Mei 2025.

Microsoft juga sedang mengembangkan cloud region lainnya di Johor Bahru. Bagi penyedia cloud, pembangunan infrastruktur lokal memberikan sejumlah keuntungan. Salah satunya adalah memungkinkan perusahaan menjalankan beban kerja lebih dekat dengan pengguna.

Selain itu, keberadaan pusat data lokal dapat membantu perusahaan memenuhi kebutuhan data residency, yakni aturan atau kebijakan yang mengharuskan data tertentu disimpan dan diproses di wilayah tertentu.

 

Korea Selatan Juga Genjot Infrastruktur AI

Ekspansi Alibaba di Korea Selatan berlangsung bersamaan dengan upaya negara tersebut memperkuat kapasitas komputasi AI domestik. Kementerian Sains dan TIK Korea Selatan melakukan peletakan batu pertama National AI Computing Center di Haenam pada 3 Agustus. Fasilitas tersebut ditargetkan mampu menampung lebih dari 15.000 chip AI pada 2028.

Proyek tersebut dikembangkan melalui skema kerja sama pemerintah dan swasta yang dipimpin Samsung SDS. Sejumlah perusahaan teknologi seperti Naver Cloud, Kakao, dan KT juga terlibat. Tidak hanya pemerintah, perusahaan swasta di Korea Selatan juga berencana membangun pusat data khusus AI.

Reuters melaporkan pada Juni bahwa SK, GS Group, dan Naver pada awalnya merencanakan investasi sekitar 550 triliun won untuk sejumlah proyek dengan total kapasitas pusat data AI mencapai sekitar 8,4 GW. Pembangunan berbagai proyek tersebut ditargetkan mulai dilakukan pada paruh pertama 2028.

 

Belanja Cloud Global Melonjak

Ekspansi Tencent dan Alibaba terjadi ketika industri cloud global sedang mengalami pertumbuhan pesat. Synergy Research Group memperkirakan belanja perusahaan di seluruh dunia untuk layanan infrastruktur cloud mencapai 143,4 miliar dolar AS pada kuartal II 2026.

Nilai tersebut meningkat lebih dari 43 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, pertumbuhan mencapai 43 persen, menjadi tingkat pertumbuhan tertinggi yang dicatat Synergy dalam delapan tahun terakhir.

AI generatif menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut. Layanan cloud yang secara khusus digunakan untuk kebutuhan AI generatif bahkan tumbuh 165 persen secara tahunan. Malaysia termasuk pasar yang mencatat pertumbuhan belanja infrastruktur cloud di atas rata-rata dunia. India, Indonesia, Irlandia, dan Thailand juga masuk dalam kelompok pasar dengan pertumbuhan tinggi.

 

Tiga Raksasa Masih Kuasai Pasar Cloud

Meski Tencent dan Alibaba terus memperluas infrastruktur, pasar cloud global masih didominasi oleh AWS, Microsoft, dan Google.

Pada kuartal II 2026, Synergy memperkirakan pangsa pasar AWS mencapai 28 persen, Microsoft 20 persen, dan Google 15 persen. Jika digabungkan, ketiganya menguasai sekitar 67 persen pasar public cloud.

Alibaba sendiri terus memperkuat posisinya, terutama di kawasan Asia-Pasifik.

Mengutip laporan Gartner mengenai pangsa pasar IaaS 2025, Alibaba mengatakan pangsa pendapatannya di pasar IaaS Asia-Pasifik mencapai 22,5 persen pada 2025, naik dari 20,8 persen pada tahun sebelumnya.

Secara global, pangsa Alibaba tercatat sekitar 7,7 persen.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Asia-Pasifik menjadi medan persaingan penting bagi industri cloud. Pertumbuhan AI, digitalisasi perusahaan, serta kebutuhan pemrosesan data dalam jumlah besar mendorong penyedia cloud membangun lebih banyak pusat data di kawasan ini.

Pada akhirnya, ekspansi Tencent di Malaysia dan Alibaba di Korea Selatan bukan sekadar soal menambah jumlah pusat data. Langkah tersebut mencerminkan perubahan besar dalam industri teknologi, ketika infrastruktur cloud menjadi fondasi utama bagi perkembangan AI dan ekonomi digital.

Dengan belanja cloud global yang tumbuh 43 persen dalam setahun, kebutuhan terhadap kapasitas komputasi diperkirakan akan terus meningkat. Tantangannya, ekspansi tersebut harus diimbangi dengan ketersediaan listrik, air, jaringan, keamanan data, serta infrastruktur yang memadai.

Jika permintaan AI terus tumbuh seperti saat ini, persaingan membangun pusat data dan cloud region di Asia-Pasifik kemungkinan akan semakin ketat dalam beberapa tahun mendatang.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait