AIRFEEL, Alat Monitoring Cuaca dan Kualitas Udara Berbasis IoT Karya Unair Raih HKI


Internet Of Things

Ilustrasi Internet Of Things

Tim peneliti dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga (FTMM Unair) telah berhasil menciptakan inovasi perangkat monitoring cuaca dan kualitas udara berbasis internet of things (IoT) bernama AIRFEEL. Inovasi ini pun berhasil memperoleh hak kekayaan intelektual (HKI) pada 2021 lalu.

Ketua Tim Peneliti Prisma Megantoro pun mengungkapkan bahwa AIRFEEL merupakan suatu perangkat yang dapat digunakan untuk mengukur kondisi cuaca dan kualitas udara, yang dilengkapi dengan berbagai sensor berbasis IoT.

“AIRFEEL ini bisa digunakan untuk mengukur suhu, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan angin, hingga curah hujan. Alat ini dilengkapi tujuh sensor udara yang digunakan untuk mengukur polusi seperti ozon, karbondioksida, CO, hidrogen, metana, dan lainnya,” jelas Prisma dalam keterangan resminya, melansir dari SindoNews.com, Rabu (25/1/2023).

AIRFEEL juga dilengkapi dengan stasiun lapangan yang terdiri atas sensor-sensor dan kontroler yang hasil pengukurannya dapat diunggah ke server internet dan base station, untuk kemudian dapat disimpan.

Penelitian AIRFEEL sendiri diungkapkan Prisma telah dimulai sejak tahun 2020, yang dilanjutkan hingga saat ini dengan empat seri inovasi. AIRFEEL terus dikembangkan dengan kegunaan yang lebih luas.

“Versi keempat akan dikembangkan lagi secara lebih luas. Nantinya, akan dilengkapi dengan versi Android dan versi hardware,” tambah Prisma.

Menurut Prisma, AIRFEEL sangat dibutuhkan, terutama dengan kondisi cuaca dan udara yang sangat penting untuk diketahui guna mengantisipasi kemungkinan terburuk dari fenomena alam yang terjadi. Kondisi cuaca dan kualitas udara terutama di Surabaya pun seringkali tidak menentu.

AIRFEEL pun secara luas dapat digunakan baik oleh akademisi, mahasiswa, masyarakat, maupun industri untuk mengukur kondisi cuaca dan kualitas udara di berbagai lokasi dan dalam berbagai kondisi.

“Jadi manfaatnya banyak sekali. Misalnya di bidang keilmuan, AIRFEEL ini dapat digunakan baik di bidang ilmu instrumentasi, lingkungan, kesehatan, maupun bidang lainnya. AIRFEEL juga dapat digunakan untuk mengukur potensi energi angin dan surya, serta bisa menjadi pendukung penelitian untuk bidang ilmu lain yang berkaitan dengan cuaca dan kualitas udara,” jelas Prisma.

Prisma pun berharap kedepannya pengembangan AIRFEEL dapat terus dilanjutkan dengan berbagai penambahan inovasi dan sistem yang lebih canggih. Selain itu, ia juga berharap AIRFEEL dapat menarik minat industri dan dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat secara luas.

“Saya harap, produk ini bisa menarik minat industri dan dapat digunakan sebagai alat-alat pendukung. Kedua, saya juga berharap alat ini bisa digunakan secara meluas di masyarakat dan bisa mengembangkan kehidupan masyarakat seperti untuk keperluan pariwisata maupun lingkungan,” tutup Prisma.


Bagikan artikel ini