Astronom Jepang Berhasil Temukan Galaksi Baru dengan AI


Artificial Intelligence

Ilustrasi Artificial Intelligence

Para astronom telah membuat penemuan menarik di galaksi dengan menggunakan teleskop berbasis Artificial Intelligence (AI) dari Jepang.

Teleskop Subaru ini merupakan teleskop unggulan dari Nasional Astronomical Observatory of Japan yang memiliki panjang 8,2 meter dan terletak di Mauna Kea Observatory di Hawaii. Penemuan yang dilakukan oleh para astronom yaitu penemuan galaksi baru yang memiliki tingkat oksigen sangat rendah, dimana semakin tinggi tingkat oksigen, maka semakin tua umur galaksi tersebut. 

Menurut para peneliti, galaksi ini hanya mempunyai 1,6 persen kandungan oksigen. Oksigen merupakan salah satu produk sampingan dari proses terbentuknya bintang. Oleh karena itu, konsentrasi oksigen rendah yang ada di galaksi menunjukkan, sebagian besar bintang di galaksi ini masih berumur muda atau galaksi tersebut baru mulai membentuk bintang. 

Galaksi tersebut dikenal dengan HSC J1631 + 4426 yang terletak 450 juta tahun cahaya dari bumi.

The Astrophysical Journal mengatakan bahwa penemuan galaksi seperti itu memang dapat dilakukan dengan teleskop Subaru pada tahap awal pembentukan menggunakan data yang sangat besar, dikarenakan bidangnya sangat luas berisi hingga 40 juta obyek. Para peneliti mengembangkan metode pembelajaran mesin baru dengan menggunakan bantuan perangkat lunak berbasis AI untuk membantu menemukan galaksi dari sejumlah besar data yang ada tersebut, contohnya pada Teleskop Subaru. 

"Untuk menemukan galaksi yang sangat redup dan langka, data dalam dan lapangan luas yang diambil dengan Teleskop Subaru sangat diperlukan," ujar Dr Takashi Kojima di Tokyo, Jumat 7 Agustus 2020.

Perangkat lunak pada Teleskop Subaru diprogram dan diajarkan untuk mempelajari warna galaksi dari model teoritis dan hanya memilih galaksi-galaksi tahap awal pembentukan, yang ditandai oksigen rendah. 

HSC J1631 + 4426 adalah salah satu dari 27 galaksi yang dipilih dengan perangkat lunak yang telah menerapkan AI untuk pengamatan lanjutan yang bisa menjadi galaksi pada tahap pembentukan awal.

Perluasan alam semesta tidak selalu menyatu menjadi bintang dan galaksi baru sehingga dapat memungkinkan bahwa HSC J1631 + 4426 merupakan salah satu galaksi terakhir yang lahir di alam semesta ini. sebab, sifat yang membedakan HSC J1631+4426  dengan galaksi lain yaitu kecerahannya. 

"Yang mengejutkan adalah massa bintang galaksi HSC J1631+4426 sangat kecil, hanya 0,8 juta massa Matahari. Massa bintang ini hanya sekitar 1/100.000 dari galaksi Bimasakti kita dan sebanding dengan massa gugus bintang di Bimasakti," tutur Profesor Masami Ouchi dari National Astronomical Observatory of Japan dan Universitas Tokyo.

Menurut para peneliti, galaksi ini menarik karena mewakili objek yang mulai terbentuk di akhir sejarah alam semesta, yang dapat memberi wawasan baru tentang pembentukan galaksi.