AWS Kehabisan Kapasitas Cloud, Permintaan AI Melonjak hingga 2028
- Rita Puspita Sari
- •
- 17 jam yang lalu
Cloud Computing
Amazon Web Services (AWS) menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan komputasi pelanggan di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI). Sebagian besar kapasitas komputasi perusahaan untuk 2027 telah dipesan pelanggan, bahkan sebagian kapasitas untuk 2028 juga sudah dialokasikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap infrastruktur cloud terus meningkat, terutama dari perusahaan yang mengembangkan dan mengoperasikan teknologi AI.
CEO Amazon Andy Jassy mengungkapkan bahwa AWS mulai kesulitan memenuhi permintaan pelanggan, meskipun perusahaan berencana menggelontorkan investasi infrastruktur dalam jumlah besar. Dalam wawancara di podcast a16z Show pada 23 Oktober, Jassy menyebut kapasitas komputasi AWS untuk 2026 juga telah sepenuhnya dialokasikan, kecuali sumber daya yang disediakan untuk layanan sesuai permintaan atau on-demand.
“Sebagian besar kapasitas untuk 2027 sudah terjual,” kata Jassy. Ia menambahkan bahwa sebagian besar kapasitas untuk 2028 juga telah dipesan.
Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan komputasi yang harus dipenuhi AWS. Sebagai salah satu penyedia layanan cloud terbesar di dunia, AWS melayani berbagai kebutuhan perusahaan, mulai dari menjalankan aplikasi bisnis hingga melatih dan mengoperasikan model AI berskala besar.
Namun, meningkatnya permintaan membuat perusahaan harus menghadapi tantangan baru. Persoalannya bukan hanya berapa besar investasi yang dapat dikeluarkan, melainkan juga seberapa cepat infrastruktur komputasi dapat dibangun dan dioperasikan.
Permintaan AI Meningkat, Kapasitas Cloud Terbatas
Pesatnya perkembangan AI generatif mendorong perusahaan teknologi membutuhkan sumber daya komputasi yang semakin besar. Pengembangan model AI membutuhkan perangkat keras berperforma tinggi, termasuk prosesor khusus, GPU, memori berkapasitas besar, serta jaringan berkecepatan tinggi.
Kebutuhan tersebut membuat perusahaan penyedia cloud harus menambah kapasitas infrastruktur untuk mengakomodasi pelanggan. AWS menyediakan layanan komputasi melalui Amazon Elastic Compute Cloud (EC2) dan layanan AI generatif terkelola Amazon Bedrock.
Meski demikian, Jassy menjelaskan bahwa kapasitas yang telah dipesan pelanggan terutama berkaitan dengan alokasi komputasi dalam jumlah besar. Artinya, pernyataan mengenai kapasitas yang sudah terjual tidak berarti seluruh layanan AWS telah kehabisan sumber daya.
AWS masih menyediakan kapasitas untuk pelanggan yang menggunakan layanan on-demand. Namun, Amazon belum mengungkapkan secara terperinci berapa banyak kapasitas komputasi yang telah dialokasikan untuk 2027 dan 2028, maupun berapa banyak sumber daya yang masih tersedia bagi pelanggan lain.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan yang ingin memperluas penggunaan AI. Ketersediaan komputasi menjadi faktor penting karena kebutuhan pelanggan tidak hanya berkaitan dengan jumlah server, tetapi juga kemampuan infrastruktur dalam menjalankan beban kerja secara konsisten.
Pusat Data, Listrik, dan Memori Jadi Kendala
Menurut Jassy, keterbatasan kapasitas AWS tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah server. Perusahaan juga menghadapi kendala dalam ketersediaan pusat data, pasokan listrik, dan memori.
Ketiga komponen tersebut merupakan bagian penting dari infrastruktur cloud. Pusat data menyediakan lokasi bagi server dan perangkat jaringan, sedangkan listrik dibutuhkan untuk mengoperasikan serta mendinginkan peralatan. Sementara itu, memori berperan dalam mendukung pemrosesan data oleh server.
Jassy memperkirakan kekurangan berbagai komponen infrastruktur tersebut akan terus berlanjut setelah 2027. Kondisi ini membuat AWS harus merencanakan pengembangan kapasitas secara lebih hati-hati.
Kelangkaan memori juga memengaruhi pembagian sumber daya antara komputasi AI dan layanan cloud konvensional. Akselerator AI umumnya menggunakan high-bandwidth memory (HBM), yaitu memori dengan bandwidth tinggi yang dirancang untuk menangani kebutuhan pemrosesan data dalam jumlah besar.
Di sisi lain, server konvensional biasanya menggunakan dynamic random-access memory (DRAM). Kedua jenis memori tersebut memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.
Meningkatnya permintaan terhadap komputasi AI dan non-AI membuat AWS harus menentukan alokasi sumber daya secara cermat. Perusahaan perlu memenuhi kebutuhan pelanggan AI tanpa mengganggu layanan yang digunakan untuk menjalankan aplikasi bisnis sehari-hari.
Investasi Infrastruktur Membutuhkan Waktu Panjang
Tantangan lain yang dihadapi AWS adalah waktu pembangunan infrastruktur yang relatif panjang. Jassy menjelaskan bahwa pembangunan pusat data biasanya dimulai sekitar dua tahun sebelum server dapat digunakan. Sementara itu, pembelian server dan perangkat jaringan umumnya dilakukan beberapa bulan sebelum peralatan tersebut dibutuhkan.
Strategi tersebut memungkinkan AWS menyesuaikan pembelian peralatan dengan perkembangan permintaan pelanggan. Jika permintaan ternyata lebih rendah daripada perkiraan, perusahaan masih dapat mengurangi pembelian server dan perangkat jaringan.
Namun, pembangunan pusat data merupakan investasi jangka panjang. Infrastruktur tersebut dirancang agar dapat beroperasi selama lebih dari 30 tahun.
Karena itu, AWS perlu memperhitungkan kebutuhan kapasitas dalam jangka panjang sebelum memulai pembangunan. Kesalahan memperkirakan permintaan dapat menyebabkan perusahaan memiliki kapasitas berlebih atau justru kekurangan sumber daya ketika pelanggan membutuhkan tambahan komputasi.
Untuk mendukung investasi tersebut, AWS mengandalkan perjanjian jangka panjang dengan pelanggan. Dalam surat kepada pemegang saham Amazon pada 2025, Jassy mengatakan perusahaan telah mengamankan komitmen pelanggan yang mencakup sebagian besar rencana investasi AWS pada 2026.
Salah satu contohnya adalah perjanjian AWS dengan OpenAI. Pada kuartal I 2026, kerja sama tersebut diperluas sebesar 100 miliar dollar AS untuk periode delapan tahun.
Perluasan itu menambah perjanjian multi-tahun sebelumnya senilai 38 miliar dollar AS, sehingga total komitmen keduanya mencapai sekitar 138 miliar dollar AS. Menurut dokumen resmi Amazon yang disampaikan kepada regulator, perjanjian tersebut juga mencakup kewajiban kontraktual terkait kinerja chip AWS.
Jassy mengatakan sebagian besar belanja infrastruktur AWS yang direncanakan pada 2026 diperkirakan mulai menghasilkan pendapatan pada 2027 dan 2028.
Amazon Siapkan Belanja Modal 220 Miliar Dollar AS
Amazon terus meningkatkan investasi untuk memperluas infrastruktur komputasinya. Pada Juli 2026, perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal tahun tersebut dari sekitar 200 miliar dollar AS menjadi 220 miliar dollar AS. Kenaikan tersebut salah satunya dipicu oleh meningkatnya biaya memori. Amazon menyebut sebagian besar belanja modal akan digunakan untuk mendukung infrastruktur AI.
Selain AI, investasi juga mencakup berbagai kegiatan operasional lainnya, termasuk robotika, semikonduktor, dan satelit.
Besarnya investasi tersebut menunjukkan bahwa Amazon berupaya memperkuat kapasitas teknologinya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di masa mendatang. Namun, Jassy menegaskan bahwa tambahan belanja belum tentu cukup untuk mengatasi seluruh permintaan yang ada.
Menurutnya, Amazon bahkan dapat mengeluarkan dana jauh lebih besar untuk infrastruktur tanpa sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pelanggan. Dalam laporan keuangan kuartal II 2026, Amazon mengungkapkan memiliki kewajiban pelaksanaan kontrak senilai sekitar 496 miliar dollar AS per 30 Juni 2026.
Angka tersebut terutama berasal dari kontrak pelanggan AWS dengan jangka waktu awal lebih dari satu tahun. Kewajiban pelaksanaan kontrak atau remaining performance obligations (RPO) mencerminkan layanan yang telah dikontrak untuk masa mendatang, tetapi pendapatannya belum diakui dalam laporan keuangan.
Amazon melaporkan rata-rata tertimbang sisa masa berlaku kontrak jangka panjangnya mencapai 6,4 tahun.
Meski demikian, angka 496 miliar dollar AS tersebut tidak menunjukkan jumlah kapasitas komputasi yang secara fisik telah dipesan pelanggan. Angka itu merupakan nilai kewajiban layanan yang masih harus dipenuhi berdasarkan kontrak.
Jassy juga mengatakan sebagian besar kapasitas komputasi AI dikontrak untuk jangka waktu setidaknya lima tahun.
Sementara itu, investasi server dan perangkat jaringan biasanya membutuhkan waktu sedikit kurang dari tiga tahun untuk mencapai titik impas. Peralatan tersebut diperkirakan memiliki masa manfaat setidaknya lima hingga enam tahun.
Dengan demikian, AWS perlu memastikan bahwa kapasitas yang dibangun dapat digunakan secara optimal selama masa operasionalnya.
AWS Tidak Akan Mengorbankan Pelanggan Lama
Di tengah meningkatnya permintaan AI, AWS juga harus menjaga keseimbangan antara pelanggan baru dan pelanggan yang sudah menggunakan layanan cloud perusahaan. Dalam podcast a16z Show, Jassy ditanya apakah AWS akan memprioritaskan perusahaan AI yang bersedia membayar lebih mahal dibandingkan pelanggan lama yang menjalankan beban kerja cloud konvensional.
Jassy menolak gagasan untuk mengalihkan kapasitas dari pelanggan yang sudah ada demi memenuhi kebutuhan perusahaan AI.
“Kami tidak akan memaksa pelanggan kami mengalah,” kata Jassy.
Ia menegaskan bahwa AWS akan terus mendukung pelanggan yang menjalankan aplikasi inti mereka, sembari memperluas kapasitas untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa AWS berupaya menjaga keberlangsungan layanan pelanggan yang sudah bergantung pada infrastrukturnya. Bagi perusahaan, gangguan terhadap aplikasi inti dapat berdampak langsung pada operasional bisnis.
Untuk membantu pelanggan mengamankan sumber daya komputasi, AWS menyediakan layanan reservasi kapasitas. Salah satunya adalah EC2 On-Demand Capacity Reservations, yang memungkinkan perusahaan memesan kapasitas instans tertentu di dalam Availability Zone.
Pelanggan juga dapat mengajukan reservasi untuk tanggal mendatang antara lima hingga 120 hari sebelumnya. Permintaan tersebut akan dievaluasi berdasarkan perkiraan ketersediaan kapasitas, ukuran reservasi, dan durasi komitmen.
Selain itu, AWS menawarkan EC2 Capacity Blocks for ML, layanan yang memungkinkan pelanggan memesan sumber daya komputasi berbasis GPU untuk kebutuhan terjadwal. Layanan tersebut mendukung pelatihan model AI, penyesuaian model atau fine-tuning, serta inferensi. Ketersediaannya bergantung pada jenis instans, lokasi, dan periode reservasi yang diminta.
Melalui layanan tersebut, pelanggan dapat mengamankan sumber daya komputasi sebelum menjalankan proyek yang telah direncanakan, setelah reservasi dikonfirmasi.
Namun, AWS belum mengungkapkan berapa banyak kapasitas yang masih tersedia melalui layanan reservasi tersebut. Perusahaan juga belum menjelaskan secara terperinci bagaimana komitmen jangka panjang untuk AI memengaruhi ketersediaan kapasitas bagi pelanggan lainnya.
Persaingan Infrastruktur Cloud Semakin Ketat
Kondisi yang dihadapi AWS memperlihatkan bahwa pertumbuhan AI tidak hanya bergantung pada pengembangan model dan perangkat lunak. Ketersediaan infrastruktur fisik juga menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa cepat teknologi tersebut dapat dikembangkan dan digunakan.
Permintaan komputasi yang meningkat membuat penyedia cloud harus berinvestasi lebih besar, sekaligus menghadapi tantangan dalam membangun pusat data, mendapatkan pasokan listrik, dan mengamankan komponen perangkat keras.
Bagi AWS, tantangan tersebut semakin kompleks karena perusahaan harus memenuhi kebutuhan pelanggan AI sekaligus mempertahankan layanan cloud konvensional. Dengan sebagian besar kapasitas komputasi untuk 2027 dan 2028 telah dialokasikan, AWS perlu terus memperluas infrastrukturnya agar dapat mengakomodasi permintaan baru.
Meski Amazon telah menyiapkan investasi hingga 220 miliar dollar AS pada 2026, Jassy mengakui bahwa dana tersebut belum tentu cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan.
Situasi ini menjadi gambaran bahwa persaingan di industri cloud semakin bergeser ke kemampuan perusahaan dalam menyediakan kapasitas komputasi secara berkelanjutan. Di tengah meningkatnya kebutuhan AI, perusahaan yang mampu membangun infrastruktur secara tepat waktu dan efisien akan memiliki posisi penting dalam memenuhi permintaan pasar.
