Cloud Computing Indonesia Conference 2021

BSSN Dorong Masyarakat untuk Tingkatkan Literasi Ruang Siber


Badan Siber dan Sandi Negara

Ilustrasi Logo Badan Siber dan Sandi Negara

Perkembangan internet di Indonesia di era industri 4.0 yang semakin berkembang membuat suatu gaya hidup baru. Gaya hidup ini membuat masyarakat semakin dekat dengan internet yang dimana sebagian besar kehidupan masyarakat seakan terus bersentuhan dengan produk teknologi ini.

Dunia nyata dan dunia maya semakin tidak ada pembatas atau perbedaan yang ditimbulkan karena semua pekerjaan yang dilakukan masyarakat di dunia nyata dapat dilakukan di dunia maya. Mulai dari belajar, bermain, berbelanja, berbisnis, bersosialisasi dapat dilakukan di dunia maya atau disebut juga dengan ruang siber yang tanpa batas oleh jarak dan waktu.

Sesuai dengan hasil survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa internet Indonesia (APJII) dari tahun 2019-2020 pada kuartal kedua, pengguna internet di Indonesia mencapai angka 196,71 juta jiwa. Mayortias pengguna internet menghabiskan waktu lebih dari delapan jam sehari di dunia maya. Sebagian besar terkoneksi di internet melalui perangkat mobile atau smartphone dan alasan terkoneksi di media sosial.

“Tidak bisa dipungkiri internet menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Koneksi ini menjadi peluang baru  bagi pelaku bisnis bahwa pasar yang besar mendorong pengusaha untuk terus berinovasi termasuk memanfaatkan tren yang terus berkembang,” ujar Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN, Retno Artinah dalam workshop Digital Citizenship: Ruang Siber yang Aman dan Nyaman di Era Industri 4.0, Selasa (23/3).

Retno menambahkan, kemunculan berbagai perusahaan berbasis daring adalah bukti nyata dari meluasnya peluang usaha dalam memanfaatkan perkembangan internet. Berbagai perusahaan jasa transportasi, makanan, kebutuhan rumah tangga, serta pendidikan memanfaatkan internet dan menciptakan sebuah pola gaya hidup bagi seluruh masyarakat Indonesia yang kini bergantung pada internet.

Pada workshop yang merupakan rangkaian acara dari Cloud Computing Indonesia Conference 2021 ini, Retno menegaskan bahwa daya saing digital yang rendah yang disebabkan di antaranya rendahnya literasi digital juga membuat Indonesia mengalami sejumlah ancaman mulai dari penyebaran konten negatif, konten berbau hoaks, ujaran kebencian (hate speech), bullying, ragam praktek penipuan, hingga radikalisme.  

Selain rendahnya tantangan daya saing digital akibat rendahnya literasi, tantangan dan ancaman siber semakin meningkat dari waktu ke waktu.Berdasarkan data dari NSOC Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), jumlah serangan siber yang terjadi pada 2020 tercatat sebanyak 495.337.202 dan meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Masifnya serangan yang terjadi tidak terlepas dari situasi pandemi COVID-19. Pembatasan masyarakat di luar rumah menyebabkan banyak aktivitas yang dilakukan secara daring atau online dan memicu serangan siber.

Menurut Retno, tantangan dan ancaman di ruang siber harus dijawab dengan tindakan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, BSSN menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI) berupa workshop digital citizenship guna meningkatkan literasi dan meningkatkan pemahaman tentang pentingnya ruang siber yang aman dan nyaman.

BSSN melalui Direktorat Proteksi Keamanan Ekonomi Digital sesuai tugas dan fungsinya menaruh perhatian yang serius terhadap upaya penciptaan ekosistem ekonomi digital yang aman. Salah satu upayanya adalah membuat kebijakan dan program kegiatan untuk memastikan penerapan aspek-aspek keamanan siber pada sektor ekonomi digital.

Dalam hal ini, Direktorat Proteksi Keamanan Ekonomi Digital telah melaksanakan beberapa program seperti penyusunan panduan teknis keamanan informasi, asistensi proteksi keamanan informasi sektor ekonomi digital, workshop penerapan teknis keamanan informasi bagi startup, serta kegiatan kampanye kesadaran informasi melalui program kampanye literasi keamanan siber.

Program-program tersebut dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak seperti industri, kampus, sekolah, asosiasi, instansi pemerintah, komunitas, serta lembaga swadaya masyarakat dengan manfaat agar terciptanya kolaborasi dan sinergi yang baik dalam mebangun upaya ekosistem ekonomi digital yang aman harus dilakukan bersama-sama ketika melibatkan semua unsur atau pihak terkait.

Ekosistem ekonomi digital yang aman akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang pesat diharapkan akan menumbuhkan kesejahteraan bagi seluruh masyakat Indonesia.