Cloudera Permudah Bisnis Perbankan Indonesia di Masa Pandemi


Ilustrasi Bank Mandiri

Ilustrasi Bank Mandiri

Di masa pandemi ini, perkembangan teknologi kian meningkat mengingat banyak kegiatan dilakukan secara daring yang membutuhkan koneksi internet. Perkembangan tersebut membantu penyimpanan dan penggunaan data.

Salah satunya adalah platform Cloudera, perusahaan big data yang berdiri sejak 2008 asal Amerika ini menyediakan perangkat lunak (software) Hadoop yang berkembang pesat. Pada kegunaannya, platform Cloudera memiliki empat keunggulan, yaitu Consumer Insight View 360, keamanan siber, peningkatan produk berbasis data, serta layanan yang lebih ekonomis.

Melalui Consumer Insight View 360, perusahaan dapat mengumpulkan informasi atau data mengenai konsumen sehingga dapat memprediksi pola konsumen. Perusahaan pun mendapat layanan mencegah kejahatan siber dengan menerapkan sistem ruled-based. Peningkatan produk berbasis data ini dapat digunakan perusahaan untuk menawarkan produk yang sesuai keinginan konsumen. Seluruh layanan tersebut pun sudah mencukupi kebutuhan perusahaan sehingga layanan kelas premium tidak diperlukan dan pengeluaran lebih ekonomis.

Bank Mandiri, sebagai perusahaan bank di Indonesia juga berupaya untuk memperkuat data analytics dengan menggunakan Cloudera yang dapat mengelola lebih dari 100 juta data per hari. Keputusan ini pun merupakan tranformasi digital yang dilakukan oleh Bank Mandiri sendiri.

Billie Setiawan, Senior Vice President, Enterprise Data Management Group Bank Mandiri, mengatakan bahwa Cloudera dapat memperkuat ketahanan dan agility untuk menjaga perkembangan bisnis serta bantuan untuk dampak pandemi COVID-19. Cloudera juga bisa mengembangkan insight basis data untuk beradaptasi terhadap situasi yang ada, dan dapat digunakan untuk mengatasi berbagai tantangan yang muncul.

"Bank Mandiri telah membuktikan bahwa pendekatan berbasis data memainkan peranan yang sangat krusial dalam mengatasi dampak COVID-19 terhadap bisnis perbankan dan para nasabah. Platform Cloudera juga telah membantu Bank Mandiri mengarungi kompleksitas proses data, melakukan tata kelola data, dan melakukan analisis multifungsi di tengah perubahan situasi yang tak terelakkan ini tanpa mengorbankan keamanan, tata-kelola, dan kepatuhan pada aturan yang berlaku," ujar Fanly Tanto, Country Manager Cloudera Indonesia.

Billie pun menambahkan bahwa pandemi memberi tekanan terhadap perekonomian dan bisnis perbankan, sebab pandemi ini memunculkan sebuah kenormalan baru (new normal) dan perubahan perilaku nasabah.

Cloudera juga membangun platform big data sebagai Enterpise Information & Decision Platform yang memiliki tiga fokus. Pertama, pada pemantauan likuiditas dan transaksi harian secara real time di 2.556 kantor cabang dan 2.236 jaringan mikro. Pemantauan bertujuan untuk mempertahankan layanan serta transaksi bagi nasabah sehingga mempermudah pelaporan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Semakin cepat dan mudah data dikumpulkan—seperti data penting tentang volume, value, dan frekuensi transaksi—hasilnya akan semakin efektif untuk pengambilan
keputusan," terang Billie.

Kedua, pemantauan pada status kesehatan setiap hari pada 76.477 karyawan yang bekerja di 12 kantor regional, 90 kantor wilayah, dan 2.556 kantor cabang. Data perubahan zona paparan COVID-19 juga mudah diketahui.

“Hanya dalam hitungan jam, dasbor pada platform ini dapat menentukan karyawan berisiko terpapar COVID-19 atau tidak dengan pengelolaan data terkait lokasi kerja (kantor atau rumah), jenis transportasi yang digunakan, maupun pola pergerakan mereka setiap hari. Dengan informasi ini, Bank Mandiri dapat mengambil keputusan berbasis data mengenai pengaturan tim dan meminimalisir risiko ribuan karyawannya terpapar COVID-19,” katanya.

Ketiga, adalah akselerasi proses restrukturisasi pinjaman untuk mempertahankan service level agreement pada tiap nasabah. Harapannya, fokus ini dapat membangun analisis yang mempercepat proses restrukrisasi tersebut.