Google Cloud Luncurkan Inovasi Cloud Computing Berbasis Open Source yang Ramah Lingkungan


Google Cloud New

Google Cloud

Pada acara Google Cloud Next’21, Google Cloud mengumumkan serangkaian inovasi baru berbasis open source untuk dapat memecahkan masalah bisnis yang paling mendesak di berbagai industri saat ini. Terutama dengan penggunaan teknologi yang besar.

Country Director Google Cloud Indonesia Megawaty Khie menyampaikan bahwa tiap perusahaan saat ini merupakan perusahaan berbasis teknologi yang memanfaatkan data, artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, hingga pengalaman digital agar unggul di bidang industri masing-masing.

“Pada akhirnya, organisasi yang sukses nantinya adalah mereka yang tidak hanya memperhatikan aspek infrastruktur seperti penyimpanan dan komputasi, tetapi juga menggunakan cloud untuk mengubah cara segenap perusahaan berkolaborasi dan berinovasi,” ujar Megawaty dalam sambutannya, Minggu (17/10/2021).

Guna mendukung perusahaan dan organisasi mempercepat adopsi cloud, Google mengumumkan inovasi Google Distributed Cloud. Portofolio ini berisi solusi hardware dan software yang dikelola sepenuhnya untuk dapat memperluas jangkauan infrastruktur dan layanan Google Cloud ke lokasi edge serta pusat data.

Melalui pengembangan di atas platform Anthos yang berbasis open source, Google Distributed Cloud memiliki beberapa jajaran produk. Produk tersebut diantaranya adalah Google Distributed Edge dan Google Distributed Cloud Hosted.

Google Distributed Cloud Edge yang hadir dalam versi pratinjau merupakan produk yang sepenuhnya terkelola untuk membawa infrastruktur dan layanan dari Google Cloud lebih dekat dengan lokasi tempat data dihasilkan serta dikonsumsi.

Produk ini dapat menjangkau lebih dari 140 titik kehadiran edge milik Google, serta lokasi edge dari pelanggan seperti toko retail, area pabrik atau kantor cabang, maupun lokasi edge yang menyediakan layanan komunikasi (CSP).

Selain itu, Google Distributed Cloud Edge juga dikembangkan untuk dapat menjalankan pemrosesan data lokal dengan beban kerja komputasi edge berlatensi rendah, modernisasi lingkungan on premise, serta penerapan 5G/LTE pribadi di berbagai industri.

Solusi ini juga memanfaatkan solusi telekomunikasi Google Cloud serta membuat CSP yang dapat menjalankan beban kerja di teknologi Intel dan NVIDIA untuk dapat mendukung use case 5G serta edge terbaru.

Sementara Google Distributed Cloud Hosted yang akan hadir dalam versi pratinjau di semester pertama 2022 mendatang dapat membantu pelanggan untuk melakukan modernisasi terhadap infrastruktur on premise. Pelanggan pun dapat melakukannya sendiri atau menggunakan layanan hosting dari mitra Google Cloud.

Guna melakukan pengelolaan infrastruktur, layanan, API, dan alat yang terkait kapan saja, konektivitas ke Google Cloud tidak perlu dilakukan. Sebagai gantinya, solusi ini menggunakan pesawat kontrol lokal yang dikelola oleh Anthos untuk pengoperasian sehingga dapat mendukung pelanggan di sektor publik serta entitas komersial yang memiliki persyaratan penyimpanan, keamanan, serta privasi data yang ketat.

Google Cloud yang mengklaim layanan cloud computing miliknya sebagai yang paling bersih di industri juga meluncurkan sejumlah inovasi untuk dapat membantu pelanggan dalam inisiatif mencegah perubahan iklim.

Maka atas inisiatif tersebut, Google Cloud menyediakan Carbon Footprint dalam Cloud Console tanpa biaya bagi setiap pelanggan. Melalui keberadaan Carbon Footprint ini, setiap pelanggan kemudian dapat melaporkan emisi karbon terkait penggunaan platform Google Cloud, kemudian melacak dan melaporkan kemajuan yang dicapai berdasarkan sasaran iklim masing-masing.

Selain itu, terdapat pula Google Earth Engine dalam versi pratinjau yang dipadukan dengan produk berbasis teknologi geospasial, seperti BigQuery, Cloud AI, serta platform Google Maps sehingga memungkinkan pengguna untuk melacak, memantau, serta memprediksi perubahan permukaan bumi karena cuaca ekstrem ataupun aktivitas manusia.

Tidak hanya itu, Earth Engine juga dapat membantu pelanggan untuk menghemat biaya operasional, mencegah dan mengelola risiko dengan lebih baik, serta menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.

Penawaran ini pun dilengkapi dengan data, insight, serta fungsi Earth Engine yang unik yang memiliki keandalan serta pengalaman kelas perusahaan yang dikelola sepenuhnya dengan fitur-fitur terbaik dari Google Cloud.

Google Cloud juga menghadirkan fitur baru Unattended Project Recommender yang menggunakan machine learning (ML) untuk mengidentifikasi proyek yang mungkin terabaikan pengguna, kemudian menyajikan laporan agar organisasi dapat mengambil keputusan untuk menghapusnya dengan mudah, mengurangi emisi karbon, menghemat biaya, dan meminimalkan risiko keamanan.

Megawaty menjelaskan, pihaknya sebagai mitra transformasi bagi pelanggan sangat berfokus untuk dapat memberikan platform data dan analisis terbaik, solusi software yang tepat, platform terpercaya, serta alat-alat terbaik yang mendukung lingkungan kerja hybrid. Selain itu, juga berusaha untuk mengatasi tantangan paling mendesak bumi.
“Semua aspek transformasi harus diperbaiki, dan penyedia cloud harus bertanggung jawab untuk menawarkan solusi terbaik di setiap segi, bukan sekadar menggunakan ulang teknologi lama di platform baru,” pungkas Megawaty.


Bagikan artikel ini