Kemenperin Dorong Sektor Kimia, Farmasi, dan Tekstil untuk Wujudkan Industri 4.0


Dirjen IKFT Muhammad Khayam

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil, Muhammad Khayam

Kementrian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI) gencar mendorong industri tanah air untuk bertransformasi menjadi industri 4.0. Hal itu dilakukan dengan mendorong sektor kimia, farmasi, dan tekstil untuk berkembang. Upaya tersebut dinilai dapat memberi manfaat besar pada perusahaan, terutama dalam adaptasi dengan kebiasaan baru di masa pandemi COVID-19 sekarang.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Muhammad Khayam pada Selasa (25/8/2020) dalam sambutannya membuka Bimbingan Teknis dan Asesmen INDI 4.0 Sektor IKFT, menyatakan bahwa dorongan ini merupakan bagian dari implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, dengan keuntungan pada industri untuk peningkatan kinerja mesin dan peralatan, kecepatan operasi produksi dan kualitas produk, serta sesuai dengan protokol kesehatan.

Kegiatan asesmen Indonesia Industry 4.0 Deadiness Index (INDI) sendiri, bertujuan untuk mengukur kesiapan perusahaan untuk bertransformasi ke arah Industri 4.0. Terutama untuk sektor IKFT. Asesmen juga dilakukan untuk mengetahui implementasi Industri 4.0 pada sektor IKFT, dan melihat sistem aplikasi masing-masing sektor.

Khayam juga menerangkan, sesuai dengan target kinerja Kemenperin berdasarkan RPJMN tahun 2020-2024, salah satu sasarannya adalah jumlah perusahaan dengan skor INDI 4.0 lebih dari 3 bisa mencapai 11 perusahaan pada 2020, dan 21 perusahaan pada 2024. Skor INDI 4.0 lebih dari 3 menunjukkan perusahaan memiliki kesiapan sedang, hingga sudah menerapkan industri 4.0.

“Kami optimis sektor IKFT mampu berakselerasi ke arah industri 4.0. Apalagi Making Indonesia 4.0 menetapkan beberapa sektor binaan kami untuk menjadi pionir dalam penerapan industri 4.0 di Indonesia, yakni industri kimia serta industri tekstil dan pakaian. Bahkan, di tengah pandemi ini kami mengusulkan industri farmasi dan alat kesehatan juga bisa mendapat prioritas pengembangan industri 4.0,” tutur Khayam.

Industri farmasi dan alat kesehatan akan dimasukan ke dalam sektor tambahan pada Making Indonesia 4.0. Khayam menyampaikan, kedua sektor tersebut memiliki permintaan tinggi dalam memenuhi kebutuhan pasar untuk produk-produk yang mencegah penularan COVID-19.

Sektor IKFT sendiri telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dari sisi kinerja ekspor, nilai pengapalan produk sektor IKFT menembus angka USD14,59 miliar sepanjang triwulan II 2020. Sedangkan realisasi investasi sektor IKFT mencapai Rp32,39 triliun, dengan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp20,06 triliun dan Rp12,33 triliun untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Selanjutnya, upaya mendorong transformasi ke arah Industri 4.0 dilakukan Kemenperin dengan program strategis. Program tersebut antara lain adalah kegiatan pendampingan transformasi industri 4.0, pelaksanaan proyek transformasi industri 4.0, peluncuran ekosistem industri 4.0 (SINDI 4.0), penghargaan INDI 4.0, dan lighthouse nasional industri 4.0, serta menggelar konferensi dan pameran industri 4.0.