Elon Musk Mau Bangun Data Center di Orbit, Ini Kendalanya


Ilustrasi SpaceX

Ilustrasi SpaceX

Wacana pembangunan pusat data atau data center (DC) di luar angkasa kembali menjadi sorotan setelah SpaceX mengungkap berbagai tantangan besar dalam dokumen resmi menjelang kemungkinan Initial Public Offering (IPO). Di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi Artificial Intelligence (AI), gagasan menghadirkan pusat data di orbit Bumi memang terdengar futuristis dan menjanjikan. Namun di balik ambisi besar tersebut, terdapat persoalan teknis dan biaya yang sangat rumit.

Dokumen S-1 milik SpaceX yang dilaporkan Reuters menyebut bahwa pengembangan komputasi AI di orbit, industrialisasi luar angkasa, hingga infrastruktur komputasi di bulan dan antariksa antarplanet masih berada pada tahap awal dan belum tentu layak secara komersial.

Pernyataan ini cukup mengejutkan karena sebelumnya Elon Musk justru sangat optimistis terhadap masa depan pusat data di luar angkasa. Pendiri SpaceX tersebut pernah mengatakan bahwa orbit Bumi akan menjadi lokasi termurah untuk menjalankan pusat data AI dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

Namun, isi dokumen resmi perusahaan memberikan gambaran berbeda. SpaceX mengakui proyek tersebut memiliki kompleksitas teknis tinggi dan masih bergantung pada teknologi yang belum sepenuhnya terbukti efektif.

 

Ambisi Besar Industri Teknologi

Lonjakan penggunaan AI dalam beberapa tahun terakhir membuat kebutuhan terhadap pusat data meningkat drastis. Perusahaan teknologi kini berlomba membangun infrastruktur komputasi yang lebih besar, lebih cepat, dan lebih hemat energi.

Masalahnya, pusat data modern membutuhkan daya listrik sangat besar serta sistem pendinginan yang kompleks. Di berbagai negara, pembangunan data center mulai menghadapi keterbatasan lahan, kenaikan konsumsi energi, dan tekanan lingkungan.

Situasi inilah yang memunculkan ide memindahkan pusat data ke luar angkasa.

Secara teori, orbit Bumi dianggap memiliki sejumlah keuntungan. Panel surya dapat memperoleh energi matahari tanpa terganggu cuaca, sementara lahan di orbit praktis tidak terbatas. Selain itu, perusahaan teknologi berharap pusat data luar angkasa dapat mengurangi tekanan terhadap infrastruktur energi di Bumi.

Ambisi tersebut tidak hanya datang dari SpaceX. Di China, perusahaan Orbital Chenguang baru saja memperoleh pendanaan pra-seri A1 senilai US$8,4 miliar untuk mendukung pengembangan teknologi luar angkasa, termasuk pusat data orbital.

Dalam presentasinya pada November 2025, perusahaan tersebut menilai pertumbuhan pusat data di Bumi mulai menghadapi hambatan serius, mulai dari kebutuhan lahan yang sangat besar hingga keterbatasan pendinginan atmosfer.

Bahkan pemerintah China melalui Five Year Plan SHALAR terbaru juga mulai memasukkan gagasan pembangunan infrastruktur komputasi berbasis luar angkasa berskala gigawatt.

Di Amerika Serikat, perusahaan Orbital yang berbasis di US West Coast turut mengumumkan rencana meluncurkan sistem “komputasi orbit skala kecil” tahun depan. Server tersebut dirancang beroperasi menggunakan energi surya langsung dari luar angkasa.

Sementara itu Nvidia juga ikut masuk dalam tren ini. Perusahaan chip AI terbesar dunia tersebut memperkenalkan modul Space-1 Vera Rubin yang dirancang untuk mendukung komputasi AI berskala besar di orbit.

CEO Nvidia Jensen Huang bahkan menyebut era “komputasi luar angkasa” telah dimulai dan akan membawa kecerdasan buatan ke tempat yang belum pernah dijangkau sebelumnya.

 

Tantangan Nyata di Balik Konsep Futuristis

Meski terdengar seperti masa depan industri teknologi, para ilmuwan menilai pembangunan pusat data di orbit bukan perkara sederhana.

Profesor astronautika MIT, Olivier de Week, mengatakan bahwa panel surya yang mampu menghasilkan daya sebesar satu gigawatt memang mungkin dibuat, tetapi tidak dalam waktu dekat. 

Sebagai gambaran, panel surya Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang ukurannya mencapai setengah lapangan sepak bola hanya mampu menghasilkan sekitar 100 kilowatt listrik. Untuk menghasilkan daya satu gigawatt, dibutuhkan panel surya sekitar 10.000 kali lebih besar atau setara dengan 5.000 lapangan sepak bola.

Artinya, infrastruktur energi yang dibutuhkan pusat data luar angkasa akan sangat masif dan sulit dibangun menggunakan teknologi saat ini.

Selain masalah daya listrik, ancaman radiasi luar angkasa juga menjadi persoalan serius.

Perangkat elektronik dan chip komputer sangat sensitif terhadap radiasi matahari maupun partikel kosmik. Bahkan radiasi gamma dalam jumlah kecil dapat menyebabkan “bit-flip”, yaitu perubahan data biner yang dapat merusak sistem komputasi.

Di Bumi, perangkat pusat data masih dilindungi atmosfer dan medan magnet planet. Namun di luar angkasa, perlindungan tersebut jauh lebih minim sehingga risiko kerusakan perangkat meningkat drastis.

Kondisi ini membuat operator harus mengembangkan sistem perlindungan tambahan yang tentunya menambah ukuran dan biaya proyek.

 

Mitos Pendinginan Gratis di Luar Angkasa

Salah satu alasan yang sering digunakan untuk mendukung ide pusat data luar angkasa adalah suhu dingin di ruang hampa. Banyak orang beranggapan bahwa server akan lebih mudah didinginkan jika ditempatkan di orbit.

Namun asumsi tersebut ternyata keliru.

Di Bumi, sistem pendinginan bekerja melalui perpindahan panas menggunakan udara atau cairan. Kipas dan cairan pendingin membantu membawa panas keluar dari perangkat.

Di ruang hampa luar angkasa, tidak ada udara maupun cairan yang bisa digunakan untuk memindahkan panas. Satu-satunya cara membuang panas adalah melalui radiasi inframerah. Karena itulah ISS menggunakan radiator besar sepanjang sekitar 75 kaki untuk menjaga suhu operasionalnya tetap stabil.

Jika pusat data berskala besar dibangun di orbit, maka diperlukan radiator dalam jumlah sangat banyak agar panas server bisa dibuang dengan efektif.

Radiator tersebut juga harus ditempatkan jauh dari paparan sinar matahari agar tetap bekerja optimal. Tantangan desain seperti ini membuat proyek pusat data luar angkasa jauh lebih rumit dibanding membangun fasilitas serupa di Bumi.

 

Biaya Peluncuran Masih Sangat Mahal

Persoalan terbesar lainnya adalah biaya.

Semua infrastruktur yang diperlukan untuk membangun pusat data di orbit memiliki ukuran besar dan bobot sangat berat. Seluruh perangkat tersebut harus diluncurkan dari permukaan Bumi menggunakan roket. Saat ini, biaya peluncuran muatan luar angkasa masih sangat mahal.

SpaceX melalui roket Falcon Heavy mematok biaya sekitar US$1.400 per kilogram muatan. Sementara estimasi NASA menyebut biaya peluncuran dapat mencapai US$2.940 per kilogram.

Jika pusat data orbital membutuhkan ribuan ton perangkat, maka biaya total proyek bisa mencapai angka fantastis.

SpaceX memang berharap roket Starship dapat menjadi solusi untuk memangkas biaya peluncuran secara drastis melalui sistem roket yang dapat digunakan ulang. Namun hingga kini proyek Starship masih mengalami berbagai penundaan dan belum sepenuhnya stabil dalam operasional.

Kondisi tersebut membuat target Elon Musk menghadirkan pusat data AI murah di orbit dalam dua atau tiga tahun dinilai terlalu optimistis.

 

Biaya Operasional Tidak Kalah Besar

Tantangan tidak berhenti setelah pusat data berhasil ditempatkan di orbit.

Biaya pemeliharaan fasilitas luar angkasa juga diperkirakan sangat tinggi. Komponen yang rusak tidak bisa diganti semudah di pusat data biasa. Setiap penggantian perangkat keras, pembaruan sistem, hingga perbaikan infrastruktur kemungkinan membutuhkan misi peluncuran tambahan yang biayanya sangat mahal.

Belum lagi jika terjadi gangguan teknis serius akibat radiasi, tabrakan puing antariksa, atau kegagalan sistem pendinginan. Semua risiko tersebut membuat banyak analis mempertanyakan apakah pusat data luar angkasa benar-benar dapat menghasilkan keuntungan secara bisnis dalam waktu dekat.

 

Antara Promosi dan Realita

Dokumen S-1 SpaceX memperlihatkan perbedaan besar antara optimisme pemasaran dan realitas industri.

Di satu sisi, perusahaan teknologi dan startup luar angkasa terus mempromosikan visi futuristis tentang komputasi orbital dan AI di luar angkasa. Namun di sisi lain, dokumen resmi untuk investor justru menampilkan daftar panjang risiko dan hambatan nyata.

Meski demikian, banyak pihak tetap percaya bahwa teknologi luar angkasa akan terus berkembang. Seperti halnya internet, satelit, atau roket yang dulu dianggap mustahil, pusat data orbital mungkin saja menjadi kenyataan di masa depan.

Hanya saja, untuk saat ini, industri pusat data masih memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih mendesak di Bumi, mulai dari efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, hingga pengembangan sistem pendinginan yang lebih ramah lingkungan.

Karena itu, pusat data di luar angkasa mungkin belum akan menjadi solusi praktis dalam waktu dekat, melainkan masih sebatas visi ambisius yang membutuhkan waktu panjang, teknologi baru, dan investasi luar biasa besar untuk benar-benar terwujud.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait