Bantu Petani Tambak, Mahasiswa ITS Gagas Teknologi Berbasis IoT Eco Aerator


Gedung ITS

Foto Gedung ITS

Banyak dari petani tambak di Indonesia yang masih mengalami kesulitasn dalam produktivitas dikarenakan beberapa hal. Maka melihat kondisi itu, tim yang beranggotakan mahasiswa dan alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas Eco Aerator yang berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu produktivitas petani tambak.

Mereka adalah Roikhanatun Nafi’ah, (mahasiswa Magister Teknik Sistem dan Industri, 2019), Prisma Riashuda (mahasiswa S1 Teknik Elektro, 2018), Rizki Wahyu Ismadani (mahasiswa S1 Teknik Elektro, 2017), dan Jatrifia Jiwa Gandhi serta Rizky Nafiar (alumni Teknik Elektro). Tergabung dalam tim, mereka merancang Eco Aerator yang bersifat ramah lingkungan.

“Selain itu, Eco Aerator buatan kami juga sudah dilengkapi dengan smart IoT,” tutur Roikhanatun Nafi’ah melalui siaran pers secara daring, Jumat (9/4/2021).

Roikhanatun yang berperan sebagai Ketua Tim pun menjelaskan, Eco Aerator yang berbasis IoT dilengkapi dengan sensor-sensor. Sensor-sensor ini berfungsi untuk menjaga kestabilan kadar terlarut serta mengoptimalkan londisi lingkungan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hasil tambak.

Ia kemudian melanjutkan, teknologi gagasannya dan tim ini tidak seperti aerator konvensional yang menggunakan diesel. Eco Aerator menggunakan energi terbarukan berupa tenaga surya. Alat ini pun dilengkapi engan kincir yang membuat hasil tambak dapat memperoleh pasokan oksigen dengan baik.

Mahasiswi yang akrab disapa Nafi’i ini juga menambahkan bahwa ide pembuatan Eco Aerator tercetus dari permasalahan petani tambak. Permasalahan tersebut berupa biaya operasional yang tergolong tuinggi namun tidak didukung dengan hasil panen yang ada.

“hasil panen yang diperoleh tidak terlalu signifikan atau memiliki produktivitas yang rendah. Eco Aerator memiliki harga yang terjangkau dengan penghematan operasional yang tinggi, sehingga petani tambak bisa menggunakan alat ini,” jelas Nafi’i.

Selaras dengan hal tersebut, saat ini pemerintah Indonesia pun ternyata juga tengah meningkatkan produktivitas dari petani tambak dengan maksud mengurangi impor dari negara lain. Maka dari itu, pasar untuk Eco Aerator pun menjadi semakin besar.

Nafi’i juga menyampaikan bahwa Eco Aerator yang berbasis smart IoT ini ternyata belum memiliki saingan lain di Indonesia, bahkan di luar negeri sendiri belum ada yang dilengkapi dengan sensor-sensor cerdas. Hal ini kemudian membuat karya Nafi’i dan tim memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan.

Berdasarkan inovasi ini pun, tim mahasiswa dan alumni ITS kemudian berhasil meraih juara pertama dalam ajang kompetisi Startup Weekend Indonesia beberapa waktu lalu. Tim ini berhasiul mengalahkan lebih dari 40 perguruan tinggi lain dan 1.0000 perusahaan rintisan atau startup di Indonesia.

“Hal ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa bagi kami,” kata Nafi’i.

Nafi’i kemudian menuturkan bahwa Eco Aerator buatan timnya saat ini masih difokuskan untuk petani tambah udang. Ia berharap kedepannya karya ini bisa dikomersialisasikan secara luas agar dapat dimanfaatkan seluruh petani tambah di Indonesia.

“Saat ini kami sedang berproses agar karya kami dapat lebih bermanfaat hingga membantu kegiatan ekspor di Indonesia,” pungkas Nafi’i.