Microsoft Bayar Rp 7,2 Triliun, Akuisisi Perusahaan Cybersecurity RiskIQ


Microsoft

Logo Microsoft

Microsoft secara resmi melakukan akuisisi terhadap penyedia perangkat lunak keamanan siber atau cybersecurity RiskIQ. RiskIQ sendiri menyediakan alat untuk manajemen serta pengumpulan intelijen ancaman terhadap berbagai serangan siber di seluruh layanan cloud, mulai dari Micorosft, AWS, server lokal, hingga serangan rantai pasokan.

Microsoft sendiri belum mengumumkan nilai dari akuisisi ini, namun Bloomberg pada Senin, 12 Juli 2021 melaporkan bahwa Microsoft telah membayar sebesar US$ 500 juta, atau setara dengan Rp 7,2 triliun untuk mengakuisisi RiskIQ.

Eric Doerr, Vice President of Cloud Security Microsoft menjelaskan bahwa RiskIQ sebagai perusahaan penyedia cybsersecurity telah membangun basis pelanggan yang kuat serta komunitas profesional keamanan yang akan terus didukung, dipelihara, serta dikembangkan.

“teknologi dan tim RiskIQ akan menjadi tambahan yang kuat untuk portofolio keamanan kami dalam melayani pelanggan, bersama dengan kami sebaik-baiknya,” kata Eric, mengutip dari Tempo, Jumat (16/7/2021).

Perangkat lunak dari RiskIQ sendiri berbasis teknologi cloud computing atau komputasi awan, yang mampu untuk mendeteksi masalah keamanan di seluruh jaringan perangkat, RiskIQ pun mencantumkan Box, Layanan Pos Amerika, BMW, facebook, dan American Express sebagai pelanggannya.

Pihak Microsoft belum menyusun rencana yang terperinci mengenai bagaimana RiskIQ akan terintegrasi dalam sistem keamanan mereka, namun pastinya nanti perangkat RiskIQ akan digunakan pada Microsoft 365 Defender, Microsoft Azure Defendr, dan Microsoft Azure Sentinel.

Microsoft sendiri secara bertahap terus mengembangkan serta meningkatkan cybersecurity nya di tengah pertempuran yang sengit dengan ransomware. Microsoft bahkan mengakuisisi pula ReFirm Labs pada Juni lalu untuk melindungi server Microsoft serta perangkat Internet of Things (IoT) mereka dari serangan keamanan siber.

Akuisisi yang dilakukan Microsoft dan perusahaan teknologi lainnya ini pun terjadi setelah berbulan-bulan dengan serangan ransomware yang merepotkan, melalui grup ranswomware REvil dalam beberapa minggu terakhir pula.

Sementara industri keamanan siber di Amerika sendiri belum pulih sepenuhnya dari peretasan SolarWinds canggih yang mampu menembus Microsoft hingga ke lembaga milik pemerintah Amerika Serikat.


Bagikan artikel ini