Peneliti dari Stanford University Kembangkan Alat Berbasis AI untuk Prediksi Gempa


Artificial Intelligence

Ilustrasi Artificial Intelligence

Sekelompok peneliti dari Stanford University yang dipimpin oleh Daniel Wu berhasil mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dapat memprediksi gempa. Teknologi berbasis machine learning ini pun diperkenalkan melalui pertemuan tahunan Seismological Society America pada Jumat (23/4/2021) lalu.

Alat bernama DeepShake ini diklaim dapat memberi peringatan gempa beberapa detik sebelum guncangan terjadi. DeepShake dalam perkembangannya sendiri menggunakan jaringan pola yang mendalam seperti machine learning AI pada umumnya.

Melalui jaringan pola mendalam itu lah, alat ini akan mempelajari bagaimana getaran gempa merambat untuk diidentifikasi. Hal ini berdasarkan pola gempa yang pernah terjadi sebelumnya di masa lalu. Pada pengenalannya, DeepShake dilatih dengan memprediksi gerakan tanah di dekat Ridgecrest, California.

DeepShake dilatih di lokasi yang merupakan zona geser California timur yang aktif secara seismik serta memiliki serangkaian gempa bumi sepanjang 2019. Wu bersama timnya kemudian menggunakan hal tersebut untuk DeepShake dapat mempelajari pola dan memprediksi getaran tanah di area.

Hasilnya, Wu dan tim mencatat setidaknya terdapat 36.000 gempa yang terjadi di Ridgecrest dari Juli hingga September pada tahun 2019. Berkaitan dengan urutan pemasukan data, para peneliti terlebih dulu mengenalkan bobot gempa bumi terhadap alat agar dapat bekerja dengan baik sebagai sistem peringatan dini.

Daniel Wu dalam LiveScience pun mengungkap bahwa meskipun DeepShake tidak diberi informasi mengenai lokasi detail serta jenis gempa, alat ini justru mampu untuk memperingatkan gempa ke stasiun seismik lainnya dalam tiga hingga 13 detik sebelum kejadian.

DeepShake pun masih dalam pengembangan yang terus berlanjut. Melalui sistem baru dalam DeepShake ini, para peneliti yakin data dapat diproses dengan lebih cepat dan melakukan generalisasi yang lebih mudah di berbagai wilayah yang rawan gempa.

Para peneliti dari Stanford Univesity ini pun berharap, ke depannya pengujian untuk DeepShake dapat diperluas ke wilayah lain untuk memperluas basis informasi mengenai pola gempa di berbagai wilayah dan urutan gempa lain.

“Tempat di mana pembelajaran mendalam benar-benar berkembang adalah tempat yang punya banyak data, dan banyak pola rumit untuk diungkap,” jelas Wu.


Bagikan artikel ini