Telkomsigma Dukung Transformasi Digital Pada Masa New Normal


Transformasi bisnis Digital

Ilustrasi Transformasi bisnis Digital

Sebagai penyedia infrastruktur teknologi informasi (TI), Telkomsigma bersedia membantu pelaku industri khususnya pada data center dalam melakukan transformasi digital saat di masa new normal. Hal itu disampaikan oleh CEO Telkomsigma, Sihmirmo Adi dalam webinar yang bertajuk "Mengelola Infrastruktur Digital di Era New Normal" pada Kamis (16/7/2020).

“Dengan kapabilitas kami sebagai provider data center yang memiliki wide coverage di Indonesia, yaitu 14 business data center dan 3 enterprise data center berstandar Tier III dan Tier IV yang secara total memiliki kapasitas lebih dari 16.000 m2, Telkomsigma siap menjadi digital enabler bagi industri yang membutuhkan transformasi digital di tengah pandemi," kata Mirmo.

Data Center yaitu sebuah fasilitas IT yang menjadi tumpuan untuk perusahaan dalam mengadopsi layanan digital terintegrasi seperti cloud, layanan yang menggunakan IoT, ERP ataupun kota cerdas. Lalu, terdapat juga tren bisnis yang mulai mengarah ke ranah digital dan artificial intelligence (AI). Meskipun begitu, pelaku industri harus memilih diantara kedua solusi layanan IT yaitu yang berbasis cloud atau colocation. Dengan begitu solusi layanan IT harus disesuaikan dengan karakteristik dari masing-masing perusahaan.

"Jika Anda ingin punya kontrol penuh terhadap perangkat network, server, storage, OS hingga database, serta bisnis Anda memerlukan teknologi yang comply dengan regulasi dari lembaga tertentu seperti perbankan, maka colocation menjadi tepat," ujar Mirmo.

Cloud juga dapat diadopsi untuk pelaku industri yang berorientasi pada fleksibilitas dan efesien dalam mengoprasikan bisnis seperti perusahaan kecil menengah. Hal tersebut karena karakteristik cloud mampu disesuaikan penggunanya dalam segi resource, compute dan storage yang dapat membuat aspek investasi IT dan operasional lebih efisien. Mirmo juga menegaskan dengan investasi IT secara besar tidak berdampak negatif bagi perusahaan.

"Kita perlu melihat terutama dari segi total cost of ownership, serta advantage yang dihasilkan (dari investasi IT). Belum tentu yang terlihat mahal di depan akan menjadi hambatan, justru yang dilihat adalah business leverage-nya, competitiveness, serta efisiensi bisnis yang diraih secara jangka panjang," ujarnya.

Untuk informasi, terdapat 60% dari 360 pelanggan Data Center Telkomsigma yang berasal dari industri finansial dan perbankan. Dikarenakan industri tersebut harus memiliki regulasi yang ketat pada aspek keamanan dan operasional yang harus ter-sertifikasi secara internasional. Sertifikasi tersebut antara lain yang dimiliki oleh Data Center Telkomsigma yaitu sertifikasi ANSI / TIA-942 Design dan ANSI/TIA-942 Site Rating 3. Sertifikasi itu bertujuan untuk membuktikan semua fasilitas data center telah terinspeksi sepenuhnya baik dari segi fisik dan dokumen desain. Untuk layanan optimasi bisnis ICT Telkomsigma terdapat empat portfolio besar yaitu data center, digital services, cloud dan IT services. Country Head of Operation, Mevira Munindra menyampaikan perusahaan harus berinvestasi dalam pengelolaan IT untuk menghadapi turbulensi bisnis, selain itu perusahaan juga diharapkan menggandeng partner transformasi digital yang sesuai. Dikarenakan aset tersebut dapat membantu keberlanjutan perusahaan di masa pandemi COVID-19.

"Tak perlu khawatir, kita cukup memilih partner teknologi yang tepat dan sesuai dengan (kebutuhan) perusahaan Anda, serta pastikan memiliki aspek security yang mumpuni," ujar Mevira dalam webinar.