BKKB Yogyakarta Kembangkan Aplikasi Batik Analyzer Sebagai Implementasi Teknologi Industri 4.0


Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kemenperin

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Doddy Rahadi

Balai Besar Kerajinan dan Batik (BKKB) Yogyakarta yang merupakan unit litbang (penelitian dan pengembangan) di bawah binaan Balai Pengembangan dan Penelitian Industri (BPPI) Kementrian Perindustrian (Kemenperin), mengembangkan aplikasi Batik Analyzer untuk membedakan produk batik asli dan batik tiruan.

Aplikasi Batik Analyzer ini dikembangkan untuk mencegah gangguan barang palsu pada industri batik. Pengembangannya pun bermula dari kesulitan masyarakat untuk membedakan kain batik asli dan tiruan yang beredar di pasaran, terutama dengan banyaknya produk impor tiruan batik yang berharga murah. 

“Batik Analyzer ini adalah suatu aplikasi yang dapat dipasang pada ponsel pintar berbasis Android dan iOS, yang dikembangkan dengan menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI), yaitu machine learning yang sesuai dengan implementasi industri 4.0,” kata Kepala BPPI Kemenperin, Doddy Rahadi, Jumat, (2/10/2020).

Aplikasi Batik Analyzer ini sebelumnya telah diperkenalkan melalui acara Industrial Summit 2019. Batik Analyzer membedakan antara kain batik asli yang terdiri dari batik tulis, batik cap atau kombinasi, dengan tiruan batik.

Industri batik yang didominasi oleh IKM (Industri Kecil Menengah) juga tidak luput dari tuntutan industri 4.0 yang kompetitif. Maka dari itu, aplikasi Batik Analyzer juga dapat digunakan oleh para pelaku IKM batik.

Aplikasi Batik Analyzer sendiri diharapkan dapat menjadi sebuah solusi untuk melindungi industri batik nasional dalam menghadapi industri 4.0. Batik Analyzer ini pun memiliki akurasi output dua kategori (batik dan tiruan) di 75%, dan akan terus ditingkatkan hingga 95%.

Selain itu, kehadiran aplikasi ini diharapkan juga dapat membuat masyarakat konsumen semakin percaya diri untuk membeli produk batik. Pihak industri batik pun juga diharapkan semakin kreatif dan produktif.

“Industri batik sangat diharapkan mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru atau berbagai perubahan dengan cara berpikir kreatif dan inovatif melalui pemanfaatan teknologi dan optimalisasi sumber daya yang ada, sehingga dapat terus bergerak serta berkontribusi positif bagi pemulihan ekonomi nasional,” papar Doddy.

Melalui perayaan hari Batik Nasional 2 Oktober lalu, Kemenperin terus mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk turut serta aktif dan berkolaborasi dalam memajukan Batik Indonesia. Menurut Doddy, Batik Indonesia adalah tanggung jawab bangsa Indonesia yang berbudaya.