Cloudera Prediksi 4 Tren yang Mempengaruhi Strategi Data Perusahaan


Data Center Ilustrasi

Ilustrasi Data Center

Cloudera sebagai penyedia platform data cloud memperkirakan teknologi tahun ini, khususnya di Asia Pasifik, masih dijalankan oleh data. SE Lead Cloudera Indonesia, Fajar Muharandy, pada jumpa pers virtual, Kamis, mengungkapkan bahwa terdapat empat tren yang akan mempengaruhi strategi data perusahaan di Asia Pasifik seperti yang dilansir dari Antaranews.

Tren pertama adalah adopsi 5G di Asia Pasifik diyakini bisa menimbulkan gelombang tsunami data yang lebih besar dibandingkan tahuan-tahun sebelumnya. “Teknologi ini akan menandakan gelombang digitalisasi berikutnya,” ungkap Fajar. Teknologi 5G diperkirakan berdampak pada strategi data perusahaan karena menjanjikan konektivitas besar-besaran untuk penggunaan Internet of Things (IoT).

Tren kedua, akan ada lebih banyak orang yang bisa mengakses teknologi machine learning. Perusahaan di Asia Pasifik diprediksi akan semakin banyak mengadopsi teknologi ini untuk menjawab tantangan di dunia digital.

Sejauh ini, hanya divisi tertentu yang berwenang untuk mengakses data perusahaan, seperti tim TIK. Seiring dengan meluasnya penggunaan machine learning, divisi lain juga akan tertarik untuk mengakses data demi meningkatkan kinerja mereka.

Tren ketiga adalah penegelolaan data secara hybrid diperkirakan semakin terkenal tahun 2021. Hybrid cloud, perpaduan platform milik sendiri, cloud private dan cloud publik, akan semakin banyak digunakan di infrastruktur perusahaan. Teknologi hybrid cloud diperkirakan akan semakin banyak digunakan di Indonesia tahun 2021.

“Manajemen pengelolaan data, mana data yang perlu ditaruh di cloud. Dalam lingkungan hybrid, pengelolaan data ini penting,” ucap Fajar. Perusahaan yang tidak mengelola data dengan baik akan rentan menjadi target serangan siber. perusahaan juga bisa kesulitan untuk mematuhi regulasi soal perlindungan data dan kewajiban mengenal pelanggan.

Tren keempat berkaitan dengan persoalan etika di kecerdasan buatan (AI). Semakin banyak AI digunakan, semakin banyak pula risiko reputasi, regulasi dan hukum. Menurut Cloudera Indonesia, etika pada AI ini merupakan salah satu perusahaan yang kompleks dan diharapkan praktiknya tidak melanggar etika.