Jejak.in Ajak Masyarakat untuk Kurangi Emisi Karbon, Manfaatkan Teknologi AI dan IoT


Ilustrasi Artificial Intelligence

Ilustrasi Artificial Intelligence

Startup Jejak.in ajak masyarakat untuk mengurangi emisi atau jejak karbon, dan mendorong demokratisasi carbon offset dengan solusi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan Internet of Things (IoT). Inisiatif ini dilakukan karena tingginya masalah perubahan iklim di dunia, ternasuk pula Indonesia sehingga memerlukan aksi nyata bersama untuk penyelesaiannya.

“Indonesia, dengan sekitar 120 juta hektar lahan hutannya, berpotensi menghasilkan 28 miliar ton kredit karbon per tahun. Ini menjadi kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk menjadi pemimpin di bidang ekonomi hijau yang berkelanjutan,” ujar Arfan Arlanda, CEO dan Foounder Jejak.in dalam keterangan resminya, Senin (7/6/2021).

Menurut Arfan, Jejak.in memanfaatkan peluang untuk berkolaborasi secara positif melalui teknologi dan mengajak siapa saja baik perorangan ataupun organisasi serta perusahaan untuk terlibat dalam upaya carbon offset.

Partisipasi tersebut dapat dengan mudah dilakukan, sesederhana menghitung jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari dan mengimbanginya dengan adopsi pohon dan kredit karbon. Arfan menuturkan, Jejak.in menghadirkan kalkulator karbon dan carbon offset marketplace untuk memungkinkan partisipasi ini berlangsung dari mana dan kapan saja, hanya dengan satu perangkat.

Melalui dukungan platform Microsoft Azure, Jejak.in kemudian berkolaborasi dengan sejumlah organisasi seperti MRT Jakarta, Gojek, dan One Tree Planted. Hal ini guna mempermudah masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam pengimbangan karbon atau carbon offset melalui solusi yang berbasis teknologi.

Jejak.in bekerja sana dengan MRT Jakarta (MRT-J) melalui penambahan kalkulator karbon ke dalam aplikasi MRT-J mobile. Fitur ini kemudian memungkinkan pengguna MRT-J untuk dapat menghitung jejak karbon yang mereka hasilkan dari setiap perjalanan antarstasiun bersama MRT-J.

Selain itu, fitur ini juga dapat memberikan perkiraan mengenai berapa banyak kredit karbon yang dibutuhkan pengguna untuk mengimbangi hasil emisi karbon mereka. Pengimbangan tersebut dapat dilakukan pengguna MRT-J melalui donasi ke berbagai kampanye penanaman pohon yang dilakukan oleh mitra Jejak.in.

Maka dengan kisaran 80.000 penumpang setiap harinya, MRT-J bisa mengurangi hingga 8.296 metrik karbon per hari. Jejak.in sendiri juga bekerja sama dengan Gojek melalui peluncuran fitur GoGreener Carbon Offset pada September 2020 lalu dan sama seperti MRT-J juga merupakan fitur kalkulator karbon dan kredit karbon yang harus diimbangi.

Sementara bersama dengan organisasi non-profit One Tree Planted, Jejak.in membantu untuk memantau program reforestasi 10 juta pohon di sejumlah area Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah dengan jumlah luas area pemantauan mencapai 18.400 hektar.

Pemantauan tersebut dilakukan dengan menggunakan satelit beresolusi tinggi dan secara konsisten selama lima tahun. Pada akhir tahun kelima nanti, dampak nyata dari pengimbangan karbon yang dihasilkan dapat dilihat.

Guna menyediakan layanan yang mumpuni bagi seluruh mitra serta masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan carbon offset, Jejak.in memanfaatkan platform cloud Microsoft Azure sebagai back end dari seluruh solusi teknologi yang ada.

Jejak.in juga dapat mengirimkan informasi terkait dengan status pengimbangan karbon terkini kepada pembuat kebijakan pemerintahan melalui Microsoft Azure. Hal ini agar seluruh anggota masyarakat dapat bekerja bahu membahu sebagai sebuah tim dalam carbon offset.

“Kami membutuhkan platform cloud yang memungkinkan kami meningkatkan mode penghitungan jejak karbon dengan cepat dari berbagai kegiatan yang dilakukan banyak orang, misalnya mobilisasi dengan transportasi. Platform tersebut harus kuat untuk menerima data dari berbagai titik pengumpulan data dengan AI, seperti sensor IoT, drone dan lainnya. Sejauh ini, Microsoft Azure mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut,” kata Arfan.

Upaya Jejak.in sendiri sejalan dengan komitmen Microsoft yang juga berfokus pada pengurangan krisis iklim. Microsoft sendiri berkomitmen, pada tahun 2050 mendatang untuk menghapus semua karbon yang dihasilkan melalui penggunaan listik ramah lingkungan.

“Kami bangga dapat mendukung Jejak.in dan berpartisipasi mengurangi jejak karbon. Kami harap semakin banyak pihak akan ikut serta dalam berbagai inisiatif untuk menjaga lingkungan hidup di Indonesia yang lebih sehat,” tutur Linda Dwiyanti, Chief Partnership Officer Microsoft Indonesia.