Perangkat IoT Rentan Terhadap Serangan Siber di Tengah Pandemi


Ilustrasi Cyber Security

Ilustrasi Cyber Security

Perusahaan Cyber Security global, Fortinet mengungkapkan bahwa selama pandemi COVID-19, perangkat Internet of Things (IoT paling terdampak terhadap ancaman serangan siber. selain itu, pandemi COVID-19 juga memunculkan gelombang baru penjahat siber yang oportunis, memanfaatkan tenaga kerja yang beralih ke model operasional jarak  jauh.

“Untuk dapat bertahan melawan serangan siber di tengah pandemi, pengguna perangkat IoT harus selalu mempraktikkan kewaspadaan tinggi, menawarkan pelatihan keamanan tingkat lanjutan, dan menerapkan kerangka kerja keamanan terintegrasi yang kuat,” ujar Cybersecurity Researcher and Practitioner for FortiGuard Labs, Aamir Lakhani yang dikutip dari Berita Satu, Kamis (18/2).

Menurut Lakhani, sejak awal pandemi hingga saat ini sebagian besar perusahaan telah memiliki cukup waktu di awal untuk menyelesaikan masalah apapun yang muncul ketika melakukan transisi ke remote work.

“Pada saat yang sama, mereka tidak boleh melupakan the big picture. Ada ratusan vektor serangan potensial yang saat ini beresiko. Fakta bahwa jaringan di rumah semakin memperumit situasi, karena perangkat IoT khususnya yang telah menjadi pusat peningkatan serangan siber baru-baru ini,” tambah Lakhani.

Lakhani menjelaskan individu-individu ini terus terlibat dalam perilaku online pada umumnya atau seringkali bersiko seperti menjelajahi media sosial, berbelanja, dan hiburan streaming. Karena sebagian besar perangkat pribadi ini tidak memiliki perlindungan endpoint dan keamanan desktop, mereka jauh lebih rentan terhadap malware.

Menurut Lakhani, malware dapat disebarkan secara tidak langsung melalui router, tablet, gim, dan sistem hiburan yang terhubung ke jaringan rumah, serta melalui perangkat IoT, seperti bel pintu kamar dan kamera. “Dari perspektif keamanan IoT, kelalaian ini berpotensi sangat merusak, terutama karena penyerang dapat mencapai tujuan merka bahkan tanpa akses langsung, misalnya laptop pribadi,” jelasnya.

“Pelaku serangan siber mengetahui, jika mereka dapat mengeksploitasi perangkat rentan yang tidak terpikirkan oleh siapapun akan menjadi masalah, maka semakin mudah untuk mendapatkan akses ke jaringan perusahaan atau sekolah dan sumber daya digitalnya, tutup Laksani.