RNI Sebut Digitalisasi Sektor Pangan Diperlukan untuk Menurunkan Biaya Produksi


Drone Pertanian

Drone Pertanian

PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang merupakan calon induk Holding BUMN Pangan mengungkap bahwa digitalisasi di sektor pangan perlu dilakukan dan sangat penting untuk dapat menekan biaya produksi pangan.

Komisaris Independen PT RNI Marsudi Wahyu Kisworo mengatakan bahwa syarat untuk pangan dan produksinya adalah harus murah, terjangkau, namun juga harus efisien dalam melakukan produksinya. Maka dari itu, digitalisasi dengan teknologi industri 4.0 pun diperlukan.

“Maka dari itu, cara kita untuk meningkatkan agar pangan menjadi terjangkau, satu-satunya adalah dengan menekan biaya produksi atau cost yang merupakan salah satu kehebatan digitalisasi, baik di sektor hulu misalnya ladang dan kebun, kemudian di bagian processing sampai ke distribusi, serta pengolahan hasil akhirnya,” ujar Marsudi dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (12/10/2021).

Marsudi melanjutkan, penerapan teknologi digital dari industri 4.0 diantaranya bisa menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence, Internet of Things (IoT), hingga machine learning untuk semua sektor. Penerapan teknologi digital ini kemudian dapat menurunkan biaya yang kemudian meningkatkan margin.

Berbicara mengenai rantai pasokan, Marsudi menjelaskan, aliran barang akan bergerak dari vendor seperti perkebunan, pertanian, peternakan, ataupun pelabuhan jika barang tersebut diimpor, serta transportasi dan pergudangan hingga ke tangan konsumen.

Aliran barang tersebut dikatakan Marsudi hanya satu arah, namun jika berkaitan dengan aliran informasi mengenai pengiriman barang, maka terdapat sifat dua arah. Informasi diterima dari hulu ke hilir, dan sebaliknya.

Sebelum digitalisasi dilakukan, aliran informasi menjadi permasalahan bagi sektor pangan. Hal ini dikarenakan informasi yang kemudian hanya mengikuti alur aliran barang sehingga informasi yang muncul hanya bersifat satu arah.

“Sementara banyak sekali informasi yang diperlukan pada sektor hulu, misalnya berapa produksi garam yang harus dibuat, berapa stok daging yang harus diproduksi serta lokasinya dan sebagainya. Ini merupakan informasi-informasi yang berada di bagian hilir namun tidak sampai ke hulu sehingga terjadilah masalah dalam distribusi pangan,” kata Marsudi.

Maka dari itu, pemanfaatan teknologi digital dalam sektor pangan pun menjadi penting. Informasi kemudian dapat bersifat dua arah dari hulu ke hilir sehingga permasalahan distribusi pangan kemudian dapat ditangani dengan baik.


Bagikan artikel ini