Cloud Computing Menjadi Jawaban dari Tantangan Migrasi Infrastruktur dan Aplikasi


Cloud Provider

Ilustrasi Cloud Provider

Zaman ini telah memasuki era super apps. Langkah Government 4.0 ini seharusnya sudah melakukan langkah transformasi digital, ibaratnya dengan cara membuat aplikasi yang modern dan pengoperasian yang mudah serta dikembangkan dengan infrastruktur yang mendukung Cloud Native Application.

Tantangan bagi industri mengenai aplikasi on-premises adalah untuk developer adalah tidak terdapat persamaan layanan API, tidak memiliki kesamaan tools, perbedaan kode dan proses untuk aplikasi on-premises.

"Tantangan yang dihadapi IT saat ini adalah yang utamanya tradisional, banyak perusahaan maupun industri yang memiliki aplikasi IT yang tradisional dan harus menambahkan infrastruktur baru. Sementara tantangan IT di zaman modern ini sudah menerapkan self service compability, banyak telah menggunakan local apps seperti Gojek, Tokopedia, Big Data yang digunakan sudah kompeten serta mendapatkan customer experience yang cepat", ungkap VP DevOps Flou Cloud, Wita Astari dalam Workshop Government 4.0 Week, Kamis (19/11).

Perbedaan dan mengapa harus pindah dari traditional infrastructure dan Hyper Converged Infrastructure atau cloud computing base adalah traditional infrastructure melakukan pemasangan dan penggunaan secara mandiri dngan membeli server sendiri, mengoperasikan sendiri sementara cloud computing base menggunakan Infrastructure as a Service (IaaS) dan storage, virtualisasi, OS telah ditangani oleh pihak yang berpengalaman sehingga industri dan perusahaan hanya tinggal menggunakan atau mengoperasikannya.

Industri menginginkan experience yang sama antara on-premises dan layanan cloud seperti konsistensi operasional, security, mendapat API yang sama. Pendekatan yang dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut adalah merubah mindset dan teknologi dari yang awalnya menggunakan traditional apps, web-based apps, mobile apps beralih ke proses yang sifatnya menggunakan Agile Methodology. Agile Methodology ini memiliki design thinking dan customer experience.

Selain merubah mindset dan teknologi, diperlukan cara bekerja yang berawal dari business needs, IT Requirements, IT Developments dan baru membuat aplikasi menjadi proses yang bersifat Agile Methodology dengan memahami user journey dengan melakukan survey customer, lalu membuat hand-drawn screens dan menghasilkan Minimum Valuable Product (MVP).

Cloud juga dijadikan jawaban dari tantangan dalam infrastruktur IT dan transformasi ke Cloud tidak mudah serta perlu dilakukan secara bertahap. Untuk mengurangi risiko dalam melakukan perpindahan ke Cloud, industri lebih memilih untuk secara bertahap berpindah ke hybrid Cloud.

Menurut Astari, Flou CLoud menentukan empat area kunci untuk transformasi ke Cloud adalah migrasi aplikasi on premises ke hybrid cloud, transformasi keamanan yang lebh kompeten, transformasi jaringan, dan virtual workspace & end user tools.

Flou Cloud hadir memberikan solusi dengan meluncurkan layanan terbaru bernama ‘Microgen’ yang berguna untuk mempercepat dan mempermudah proses aplikasi DevOps tanpa harus mencari tahu satu persatu aplikasi yang terdapat dalam DevOps.

"Microgen merupakan layanan back-end dengan layanan microservices dan graphiCL Generator berbasis mode JS microgen yang dapat membantu dan mempermudah para developer dalam mengembangkan aplikasi hingga ke skala besar," tutup Astari.