Keamanan dan Infrastruktur Jadi Faktor Penting untuk Bisa Adopsi Edge Computing


Ilustrasi Cyber Security

Ilustrasi Cyber Security

Edge computing sebagai sistem komputasi yang dilakukan sedekat mungkin dari sumber data saat ini telah mengalami perkembangan besar. Hal ini dikarenakan implementasi edge computing dinilai mampu memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi perusahaan untuk dapat menerapkan kerja jarak jauh dengan akses produk dan layanan yang lebih terdistribusi serta konsumsi media yang tidak terbatas, terutama akibat pandemi COVID-19.

CEO EDGE DC Indonesia Stephanus Oscar mengatakan, ada dua hal yang menjadi tantangan dan harus diperhatikan untuk dapat mengadopsi teknologi edge computing guna menjaga kelangsungan bisnis. Kedua tantangan tersebut adalah keamanan dan infrastruktur.

“Tantangan untuk edge computing di Indonesia ini, saya lihat ada dua yang utama, yaitu dari segi infrastruktur dan cybersecurity,” kata Stephanus dalam acara Virtus Showcase ‘Edge of Distributed Enterprise: Embracing The Next Digital Wave’ di Jakarta, Kamis (15/9/2022).

Menurut Stephanus, dari sisi infrastruktur diperlukan adanya kesiapan edge data center yang andal serta infrastruktur jaringan yang baik sebagai faktor penting yang mampu memastikan up time serta kelangsungan bisnis.

Sementara dari sisi keamanan, pelanggan harus memastikan adanya implementasi keamanan siber atau cybersecurity seperti SASE (Security Access Service Edge) untuk bisa menjaga hubungan yang aman antara aplikasi dan end point-nya.

“Implementasi edge device atau edge computing, akan memungkinkan multiple point of entry yang semakin banyak sehingga potensi untuk cyber attack dan hacking juga akan sangat banyak. Maka dengan penggunaan seperti zero trust security principle, itu menjadi hal yang mungkin patut kita pelajari,” ungkap Stephanus.

Stephanus kemudian melanjutkan, bahwa implementasi dari edge computing di Indonesia sendiri saat ini bisa dikatakan masih dalam tahap dini. Hal ini dikarenakan pelanggan masih banyak yang mencari tahu lebih dalam terkait use case dari edge computing yang dapat digunakan.

Meski demikian, sudah ada beberapa industri yang mulai mengimplementasikan edge computing. Salah satu industri yang memulai implementasi dari teknologi edge computing ini adalah industri gaming.

“Bisa kita lihat contohnya di industri gaming yang memanfaatkan edge untuk memberikan pengalaman pengguna dan latensi terbaik, karena perusahaan gaming harus mendekatkan dirinya ke pengguna mereka,” jelas Stephanus.

Direktur Virtus Christian Atmadjaja pada kesempatan yang sama kemudian menambahkan, perusahaan perlu untuk menyadari bahwa pemicu mengapa edge computing diperlukan adalah karena adanya ledakan data dan tingginya jumlah perangkat yang terhubung dengan jaringan. Hal ini untuk dapat membantu perusahaan mempersiapkan diri menghadapi edge computing.

Christian mengatakan, bahwa dua pendorong itulah yang kemudian membuat kemampuan IT untuk memproses seringkali kalah cepat dengan jumlah ledakan data, sehingga jika semuanya ingin diproses di data center bisa jadi kalah cepat. 

Padahal, data harus dipindahkan terlebih dahulu ke data center untuk diolah, dianalisis, sebelum kemudian dikirim kembali ke edge ataupun end user-nya. Hal ini kemudian bisa memakan banyak waktu.

“Itulah mengapa timbul teknologi edge computing di mana data yang relevan untuk lokasi tersebut, ya sudah datanya dikumpulkan di sana, diproses di sana, di-generate di sana, dan dikonsumsi di sana,” pungkas Christian.


Bagikan artikel ini