Perangi Hoaks Pilpres AS, Microsoft Ciptakan Pendeteksi Deepfake


Microsoft

Logo Microsoft

Ditengah pandemi ini, berita palsu (hoaks) dan Deepfake banyak beredar dan dapat meresahakan masyarakat. Selain itu, dalam waktu dekat ini akan ada pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) yang tentu rawan akan penyebaran hoaks.

Menanggapi masalah itu, Microsoft merilis alat baru untuk memerangi berita hoaks, terkhusus teknologi deepfake. Inovasi tersebut juga merupakan bagian dari Program Defending Democracy (membela demokrasi).

Deepfake sendiri adalah bentuk manipulasi suara dan wajah seseorang dalam bentuk video dengan mengandalkan deep learning. Teknologi deep learning merupakan bagian dari kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang secara umum mampu mengolah audio dan video.

Microsoft mengatakan pada Rabu (2/9/2020), Alat pendeteksi Deepfake itu diberi nama Microsoft Video Authenticator. Alat tersebut dapat menganalisis gambar diam dan gambar video lalu membaginya seberapa besar kemungkinan media dimanipulasi secara buatan.

Hasilnya, pengguna bisa melihat skor kepercayaan atau presentase peluang kemungkinan media dimanipulasi. Skor kepercayaan tersebut, akan ditampilkan secara real-time di setiap frame. Microsoft mengatakan alat tersebut bekerja dengan mendeteksi elemen halus yang kemungkinan tak terdeteksi mata manusia.

Microsoft juga mengizinkan produser konten untuk menambahkan hash, yaitu suatu kode dari hasil enkripsi yang terdiri dari huruf maupun angka acak dan sertifikat digital ke konten yang mereka produksi. Sertifikat tersebut berfungsi untuk memberikan titik referensi keaslian konten agar dapat dipercaya.

Microsoft bekerjasama dengan AI Foundation untuk menyediakan alat tersebut. Alat ini dikembangkan oleh divisi Research and Development dari Microsoft Research. "Kami berharap metode ini akan terus berkembang kecanggihannya," kata Microsoft.

Lebih lanjut, Microsoft berkomitmen akan terus berjuang melawan segala bentuk berita misinformasi dan konten palsu.