Qlue Bersama HPE Manfaatkan Cloud dan Edge Computing Untuk Dorong Transformasi Digital Perusahaan


Logo Qlue

Logo Qlue

Perusahaan startup Qlue terus mendorong upaya transformasi digital bagi industri di Indonesia dengan melakukan integrasi sistem pengawasan di perusahaan sehingga operasional bisnis dapat berjalan secara efisien.

Founder dan CEO Qlue Rama Raditya menyampaikan, transformasi digital bisnis adalah sesuatu yang tidak dapat dibendung. Hal ini karena cepat atau lambat, kebutuhan teknologi perusahaan akan terus meningkat sesuai tren yang berkembang di pasar.

Maka untuk memanfaatkan ceruk pasar yang semakin membesar, perusahaan harus bisa  melakukan transformasi digital dengan cepat. Berkaitan dengan hal tersebut, Qlue pun melakukan implementasi teknologi pengolahan data pada cloud computing, edge computing, dan data center yang bersifat on-premise.

Teknologi tersebut pun dikembangkan oleh Qlue agar dapat menjangkau lebih banyak klien dan pengguna. Hal ini dikarenakan pemanfaatan solusi dari Qlue dapat dilakukan secara fleksibel, sesuai dengan preferensi dan infrastruktur yang dimiliki perusahaan klien.

"Pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan internet of things (IoT) juga terbukti dapat membantu kinerja perusahaan. Kami mencatat efisiensi operasional pengguna teknologi dari solusi Qlue ini bisa meningkat 70 persen dibanding biaya operasional sebelumnya," kata Rama dalam keterangan resminya, melansir dari Liputan6, Jumat (3/12/2021).

Country Product Manager Hewlwtt-Packard Enterprises (HPE) Pungky Sulistyo pun mengakui pemanfaatan teknologi komputasi untuk pengelolaan dan pendistribusian data yang lebih cepat. Menurutnya, pemanfaatan teknologi edge computing dapat mendorong efisiensi perusahaan dalam aspek biaya operasional hingga 50 persen.

Pungky melanjutkan, bahwa dengan memindahlan sistem analisis di awal maka sistem pengawasan seccara operasional dapat berjalan lebih cepat dalam memberikan notifikasi. Hal ini akan membuat sistem berjalan dengan proses yang lebih efektif dan antisipatif.

"Contoh praktisnya adalah pemanfaatan aplikasi penunjuk jalan Google Maps. Pengguna jalan pasti sudah sangat menikmati manfaat dari aplikasi tersebut. Baik cloud computing maupun edge computing sendiri bersifat saling melengkapi, sehingga aplikasinya tentu akan sangat bergantung pada kebutuhan transformasi digital dari perusahaan tersebut," jelas Pungky.

Sementara di sisi lain, Qlue mendorong peningkatan lokalisasi teknologi untuk mempertahankan kearifan lokal Indonesia. Langkah ini dinilai perlu dilakukan untuk mencegah adanya benturan antara digitalisasi dengan nilai-nilai budaya Indonesia.

Menurut Rama, kemajuan teknologi memiliki potensi untuk mendegradasi kearifan lokal jika tidak dikeola dengan optimal. Salah satu contohnya, adalah urbanisasi yang semakin tinggi karena pemanfaatan kemajuan teknologi cenderung terjadi di kawasan perkotaan. Kondisi tersebut akan membuat kawasan pedesaan ditinggalkan oleh penduduknya dan berpotensi mengurangi nilai-nilai kearifan lokal di masyarakat.

Maka untuk mendorong sinergi yang lebih optimal antara kemajuan teknologi dan kearifan lokal dalam memanfaatkan potensi ekonomi digital di Indonesia, lokalisasi teknologi menjadi vital untuk dilakukan. Hal tersebut dikarenakan pentrasi teknologi yang mayoritas berasal dari luar negeri tidak otomatis menjadi jawaban dari persoalan yang terjadi di suatu wilayah.

"Melalui dukungan data-data yang komprehensif, lokalisasi teknologi menjadi lebih signifikan manfaatnya dalam dalam menjadi solusi bagi masyarakat," tutur Rama.

Rama juga menyampaikan bahwa melakukan akomodasi pada pasar yang ada menjadi hal yang signifikan untuk dilakukan. Tidak hanya melakukan pengembangan teknologi, tetapi juga perlu untuk mengadaptasi teknologi sebagai solusi atas sebuah masalah. 

Oleh karena itu, Rama menyampaikan bahwa secara talent Qlue memiliki engineer yang berasal dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Bandung, bahkan hingga Papua. Qlue telah menerapkan prinsip hyper-localized teknologi sehingga dapat menjangkau seluruh wilayah di Indonesia, bahkan diterima oleh pasar di Jepang, Malaysia, dan Singapura.

Penetrasi teknologi yang cukup tinggi di Indonesia kini menjadi salah satu perhatian pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya. Transformasi digital yang terus berkembang secara luas kemudian juga harus memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal agar masyarakat tidak kehilangan identitas kebudayaan.


Bagikan artikel ini