Robot Pemetik Buah Dengan Sensor Sentuhan di New Zealand


Robot Buatan Pemetik Buah

Ilustrasi Robot Buatan Pemetik Buah

 

 

Samuel Rosset bersama timnya, Auckland Bioengineering Institue (ABI), University of Auckland, menerima tantangan untuk membuat robot pemetik buah beri. Dengan bantuan senilai 200.000 dollar New Zealand, mereka berupaya agar tidak terjadi gesekan antara robot dengan buah agar buah beri yang diambil tidak hancur. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka mengembangkan sensor lunak serta algoritma penginderaan yang berfungsi untuk meningkatkan kepekaan robot terhadap sentuhan.

Rosset mengatakan jika tangan manusia mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan bentuk objek secara naluri sehingga saat manusia berjabat tangan tidak menimbulkan rasa sakit.

“Tetapi sementara robot pandai memanipulasi material yang kaku, interaksi dengan benda lunak jauh lebih sulit - sesuatu yang sederhana bagi manusia, seperti berjabat tangan, adalah tantangan nyata bagi robot,” jelas Rosset, Rabu (5/8/2020).

Industri pemetik buah di New Zealand mengalami permasalahan kurangnya tenaga kerja sehingga diciptakan robot pemetik buah beri. Namun, terdapat tantangan-tantangan yang harus dilewati seperti kemampuan robot dalam mendeteksi tingkat kematangan dan letak buah berada serta teknologi pengindaraan kulit seperti sentuhan dan tekanan. Rosset dan timnya ingin mengembangkan teknologi robot yang mirip dengan kulit sehingga robot mampu merasakan sentuhan dan tekanan tanpa merusak buah tersebut.

Konsep tersebut bergantung pada transistor organik yang mahal dan kompleks untuk di produksi. Pada pendeteksian lokasi dan tingkat kematangan buah, Rosset dan tim berupaya untuk membuat teknologi yang dapat mendeteksi kejadian tersebut dan seberapa besar tekanan yang diberikan.

"Sehingga mirip dengan kulit kita, yang memberikan informasi tentang tekanan dan lokasi: jika seseorang / sesuatu menusuk kulitmu sarafmu mengirimkan informasi otakmu di mana dan seberapa kuat merekamenusukmu," jelas Rosset.

Laboratorium Biomimetik di Auckland Bioengineering Institute diketahui mempunyai teknologi penginderaan yang terkenal di dunia, sehingga Rosset dan tim pun memanfaatkan laboratorium tersebut. Teknologi penginderaan membutuhkan elektroda serta kabel yang cukup banyak, namun mereka hanya mengandalkan satu elektroda dengan algoritma penginderaan yang cerdas sehingga teknologi yang dicipatakan akan lebih mudah dan murah untuk di produksi.

“Jadi kami ingin menjaga sensor tetap sederhana, tetapi dengan mengidentifikasi sinyal yang lebih kompleks, kami dapat memungkinkan teknologi mendeteksi informasi yang kompleks. Itu akan memungkinkan kami untuk memberi robot kulit, dan kulit sensitif, yang dapat menemukan buah dan buah lainnya dan memetiknya tanpa memar," ujar Rosset.