Kemenkominfo Targetkan 100.000 Talenta Digital Tahun 2021, Dari Lulusan S1 Sampai Buruh Migran


Digital Talent Scholarship

Logo Digital Talent Scholarship

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) seperti yang sudah diketahui telah melaksanakan program Digital Talent Scholarship (DTS) sejak tahun 2018 sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo terkait persiapan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) talenta digital untuk transformasi digital. Tahun ini, Kominfo targetkan 100.000 peserta DTS.

“Kita lihat bahwa Indonesia punya potensi besar untuk mengadopsi teknologi seperti cloud computing, AI, IoT, dan 5G. Kominfo kemudian merencanakan peta Indonesia Digital 2021-2024 yang termasuk didalamnya target talenta digital sebanyak 600.000 orang setiap tahunnya,” tutur Hari Budiarto, Kepala Badan Litbang SDM Kominfo, Jumat (19/3/2021).

Melalui webinar bertajuk ‘Bagaimana Menyiapkan SDM untuk Bersaing di Era Industri 4.0’ yang merupakan bagian dari rangkaian acara Cloud Computing Indonesia Conference 2021 ini, Hari menyampaikan bahwa Kominfo siapkan program DTS untuk tingkatkan kompetensi talenta digital agar memenuhi kebutuhan SDM di era industri 4.0.

Melalui program Digital Talent Scholarship, Kemenkominfo akan menyediakan pelatihan untuk alih kompetensi di era industri 4.0. Hari pun menyampaikan, program DTS diharapkan akan berkembang setiap tahunnya agar target perencanaan Indonesia Digital Kemenkominfo dapat dicapai dan SDM digital bisa mendukung transformasi digital.

“Akademi DTS menerima talenta digital yang di bagi ke dalam enam akademi. Misalnya untuk fresh graduate yang membutuhkan sertifikasi untuk menunjukkan kompetensi mereka. Program DTS akan memberikan pelatihan dengan modul-modul dari perusahaan teknologi terkemuka sebelum melalui ujian sertifikasi yang akan dibiayai  melalui DTS,” papar Hari.

Tidak hanya pelatihan untuk lulusan S1 baru atau fresh graduate, DTS juga bisa diperuntukkan untuk masyarakat umum, program vokasi, aparatur sipil negara, hingga kriteria peserta bervariasi seperti buruh migran.

“Kita lihat jumlah buruh migran di Indonesia banyak sekali di Indonesia, buruh migran Indonesia juga banyak di luar negeri. Pelatihan DTS bagi mereka adalah untuk dapat mengelola keuangan yang diperoleh secara mandiri agar dapat mensejahterakan dirinya,” kata Hari.

Program DTS sendiri, hari menuturkan, bekerja sama dengan perusahaan teknologi terkemuka seperti Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft, serta berbagai institusi pendidikan seperti UGM, ITB, hingga UNPAD dengan harapan memberikan pelatihan yang sesuai untuk kompetensi di era industri 4.0.

“Saat ini, ekspetasi perguruan tinggi semakin bergeser untuk menjadi agent of economic development sehingga harus ada daya saing yang dapat dikembangkan untuk membantu memulihkan ekonomi negara terutama dengan perkembangan IPTEK yang pesat. Pelatihan kompetensi yang sesuai bisa dibentuk dengan kualitas pendidikan yang baik pula,” kata Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng.,D.eng., IPU, ASEAN Eng.


Bagikan artikel ini