Wujudkan Keamanan Informasi di SPBE, BPPT Perkenalkan CSIRT


Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Dr. Hammam Riza, M.Sc.

Keamanan informasi merupakan hal yang penting di era revolusi industri 4.0. Sedikitnya ada lima teknologi terkini yang sering dikaitkan dengan terlaksananya revolusi industri 4.0 dimana keseluruhannya harus didukung oleh keamanan informasi yang kuat, kata Kepala BPPT Hammam Riza saat launching BPPT Computer Security Incident Response Team (CSIRT) di Jakarta yang dikutip pada Selasa (08/06).

Hammam menyebut, kelima teknologi terkini adalah artificial intelligence, internet of things, big data, cloud computing, dan additive manufacturing. Sebagai antisipasi dampak perubahan teknologi ini, keamanan informasi (cyber) menurutnya merupakan salah satu unsur utama dan pondasi dalam menjaga keamanan dan keterhubungan seluruh sistem digital. Pengamanan informasi setidaknya harus didukung oleh tiga pilar, yaitu : People, Process, dan Technology.

Karenanya, kehadiran CSIRT menurut Hammam akan menjadi kekuatan utama dalam rangka mengawal sistem keamanan informasi di suatu organisasi. Sehingga kehadiran BPPT CSIRT diharapkan mampu mewujudkan ketangguhan keamanan informasi di Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) BPPT. Tentu saja tidak dapat berdiri sendiri, karenanya dibutuhkan partisipasi aktif semua pihak dalam menyelesaikan insiden secara cepat dan efektif.

"Dengan semakin banyaknya CSIRT yang terbentuk pada sektor pemerintah, diharapkan akan dapat membangun kemandirian dan kesiapan dalam menghadapi ancaman insiden siber serta berkontribusi langsung dalam menjaga keamanan siber di Indonesia," tambahnya. 

Sementara, Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Yoseph Puguh Eko Setiawan sangat mendukung dan mengapresiasi atas terbentuknya Tim Tanggap Insiden Siber atau Computer Security Incident Response Team (CSIRT) BPPT, saat keamanan siber menjadi  isu  strategis  di  berbagai  negara termasuk  Indonesia dan seiring  dengan  kemajuan  teknologi informasi  dan  komunikasi.

menurut Yoseph, ruang siber harus diikuti oleh tiga hal yaitu bagaimana mengamankannya secara maksimal, bagaimana menggunakan ruang siber tersebut guna memajukan kepentingan nasional di tingkat global serta bagaimana memiliki kuantitas serta kualitas yang kompetitif di tingkat dunia pada seluruh lapisan ruang siber yang terdiri dari lapisan fisik, lapisan jaringan logika, dan lapisan sosial.

Oleh sebab itu, BSSN bersama instansi terkait sedang menyusun peraturan-peraturan yang memuat tentang Strategi Keamanan Siber Nasional (SKSN), Manajemen Krisis Siber (MKS) dan Pelindungan Infrastruktur Informasi Vital (PIIV).

Dikutip dari Industry, saat ini, BSSN sedang membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) sebagai salah satu pelaksana keamanan siber untuk pembangunan kekuatan siber di Indonesia sesuai Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024 yang mengamanatkan kegiatan pembentukan 121 CSIRT sebagai salah satu proyek prioritas strategis. 

Ia menyebut, Tim CSIRT dari BPPT termasuk dalam salah satu CSIRT yang bertugas untuk meminimalkan dan mengendalikan kerusakan akibat insiden siber dengan memberikan respons penanggulangan dan pemulihan yang efektif, serta mencegah terjadinya insiden siber di masa mendatang.