Seminar Diseminasi CfDS UGM: Rekomendasi Aturan Klasifikasi Data di Era Komputasi Awan

  • 19 Feb 2019 19.57 WIB
  • dilihat 0 kali

Seminar Diseminasi CfDS UGM

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama dengan Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada kembali menggelar Seminar Diseminasi hasil riset, yang mengangkat tema Klasifikasi Data di Era Komputasi Awan. Acara ini berlangsung pada Selasa 19 February 2019 di Hotel Sultan, Jakarta.

Dalam seminar diseminasi riset tersebut, juga dibagikan buku white paper dari hasil riset CfDS yang berjudul Transformasi Digital Indonesia di Era Komputasi Awan: Rekomendasi Aturan Klasikasi Data Sektoral dalam Menyongsong Revisi PP 82/2012. Melalui seminar dan hasil riset tersebut, Kementerian Kominfo dan CfDS UGM melihat peran penting klasifikasi data dan perkembangan implementasinya di Indonesia, khususnya bagi masa depan sektor energi. Seminar ini juga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran publik akan pentingnya perlindungan data strategis dari potensi serangan siber.

Sekretaris Ditjen Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Kominfo Sadjan, hadir mewakili Kementerian Kominfo dalam seminar tersebut. Dalam sambutannya Sadjan mengatakan, dengan adanya pemindahan data ke komputasi awan, pelaku industri perlu mengatur praktik pengamanan akses data yang sama ketika data tersebut masih berbentuk fisik.

"Pelaku industri perlu mengimplementasikan klasifikasi data sebagai metode pengamanan informasi, karena seperti yang kita ketahui bahwa setiap industri menyimpan potensi tinggi sehingga sektor industri ini perlu menghindari kemungkinan terbukanya data strategis ke publik," kata Sadjan.

Sadjan menjelaskan, klasifikasi data merupakan aktivitas pengkategorisasian data berdasarkan aspek kerahasiaan dan berdampak pada aktivitas bisnis bagi setiap industri di sektor energi. Menurut Sadjan, hal tersebut sangatlah penting mengingat di era digital ini juga berdampak bagi setiap pekerja yang dengan mudah mendapatkan informasi terkait pekerjaan.

"Implementasi klasifikasi data dapat memaksimalkan adopsi komputasi awan di era digital ini, maka jika diimplementasikan dengan baik, komputasi awan dapat menciptakan efisiensi pada biaya operasional. Oleh sebab itu, perlu adanya pengawasan secara real time dalam jarak jauh, dan juga untuk peningkatan produktivitas pekerja karena informasi terkait pekerjaan itu kan dapat diakses kapan dan dimana saja", jelas Sadjan.

CfDS UGM menilai, sektor energi saat ini menghadapi berbagai kendala dampak dari penurunan harga minyak, sehingga hal ini berdampak pada produktivitas. Guna meningkatkan produktivitas tersebut, CfDS UGM berharap sektor energi perlu mengambil langkah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi perusahaan di era transformasi digital saat ini, termasuk diantaranya melalui adopsi teknologi.

Potensi Konflik Kepentingan CfDS UGM

Dihubungi terpisah, Alex Budiyanto selaku Ketua Umum Asosiasi Cloud Computing Indonesia menyayangkan langkah yang diambil oleh Kemkominfo dan CfDS UGM ini karena saat ini masih terjadi tarik ulur antara pelaku industri nasional dengan pemerintah terkait rencana revisi PP 82/2012 ini. Alex khawatir aktifitas seminar atau sosialisasi yang melibatkan akademisi seperti ini adalah langkah Kemkominfo untuk mendapatkan dukungan dari rencana revisi. 

"Kami sangat menyesalkan Kemkominfo dan CfDS UGM mengadakan acara sosialisasi bahkan sudah berani memberikan rekomendasi klasifikasi data dengan membagikan buku saat rencana revisi tersebut belum disahkan dan masih terjadi tarik ulur yang sangat kuat antara pemerintah dan pelaku industri, kalau hanya mau menggunakan layanan komputasi awan, di Indonesia sudah banyak layanan komputasi awan yang siap mendukung efisiensi perusahaan dan juga transformasi digital", tegasnya. 

Alex juga mempertanyakan keterlibatan lembaga akademis CfDS UGM dan juga hasil kajiannya yang telah dibagikan dalam bentuk buku di dalam acara tersebut. Alex khawatir CfDS menjadi alat bagi kepentingan Kominfo supaya terkesan mendapatkan dukungan akademis, Alex juga mempertanyakan posisi Tenaga Ahli Menkominfo yang juga sebagai Managing Director CfDS. 

"Mengenai hasil kajian CfDS UGM, kami belum mendapatkan hasil kajiannya, kami akan mencoba mendapatkannya dan mencoba pelajari terlebih dahulu. Saya heran kenapa kok tiba-tiba CfDS mengeluarkan hasil kajian dan rekomendasi klasifikasi data dan diseminasi hasil kajiannya juga dilakukan bareng Kominfo? kami khawatir ini ada konflik kepentingan karena setahu saya Managing Director CfDS UGM juga kebetulan adalah Tenaga Ahli Menkominfo bidang kebijakan digital. Ini perlu untuk dijadikan catatan", tutupnya.